
Download Proposal
Video Pendaftaran 3 oktober 2007
Cerita di Balik “ITB MUDA PROGRESIF”
“Lawan dari Hidup bukanlah Mati, tapi Menjadi Tua”
Simon de Beauvoir
Angkatan ITB muda tersebar di berbagai tempat dan meriap-riap dalam upayanya berkarya bagi masyarakat yang terkadang masih mengalahkan egoismenya sebagai manusia. Anak-anak muda ini marah tetapi tak mau mencari kambing hitam pun tak mau menyalahkan siapapun. Kemarahan, dalam bentuk positif tentunya menjadi bahan bakar yang ampuh yang dapat diolah menjadi energi positif yang bercita-cita untuk membangun dan berkarya dalam kesadaran. Diskusi-diskusi di antara teman-teman mahasiswa atas kondisi bangsa dan kiprah yang cenderung melemah dari penggerak bangsa yang tergabung dalam status alumni ITB, mantan mahasiswa yang cenderung menjadi harapan bangsa adalah awal dari segala sesuatu. Diskusi antara Zaid Perdana Nasution (TL96), Diding (PL96), Hokky Situngkir EL96), Ariemulyo Nugroho (KI96), Muhammad Kurniawan Ginting (TI96), Efri (TM96), Wahyu Nugroho (TI96), Ilham (TK96), Nando (TL96) bersama-sama dengan generasi yang tak jauh usianya seperti Deni Khanafiah (KI98), Rolan Mauludy (TI00), Adrian Maulana (MT01), Hoferdy Zawani (PL01), Kurniawan Hadi Yusro (FI01) yang kemudian melebar ke sebuah forum yang menyertakan berbagai kalangan yang memberikan dukungan termasuk di antaranya Abdillah Prasetya (FI98), Arief Haryanto (FI98), Eka (SR96), Nomo (FA95), Berlin (KI00), Rovi (SI01) dan deretan nama-nama lain akhirnya berkeinginan membentuk tim alumni ITB Muda Progresif yang ingin menggunakan momentum suksesi kepengurusan Ikatan Alumni IA (ITB) sebagai sebuah momentum perubahan demi progresifitas dan harmonisasi demi kemashlahatan masyarakat seluasnya, kemahasiswaan dan kehidupan kampus ITB, serta sinergisasi berbagai aktivitas profesional alumni ITB.
Pertemuan tersebut digelar dengan melemparkan wacana ini pada hari Sabtu 29 September 2007 yang dihadiri lebih dari 50 orang alumni muda angkatan 95 ke bawah. Pertemuan ini secara tak terduga berubah menjadi wacana untuk menyusun sebuah kekuatan alternatif untuk menjadikan IA ITB menjadi wadah yang penuh warna semangat kemudaan yang bersih dan progresif. Syarat yang mesti dipenuhi adalah mesti adanya dana sebesar Rp 30 juta yang disetorkan pada pendaftaran dan Rp 100 juta sebagai jaminan yang akan dikembalikan jika kandidat ternyata kalah, dukungan dari setidaknya satu IA daerah dan satu IA jurusan. Tanpa diduga pertemuan pada malam itu berakhir dini hari dengan sebuah kerelaan orang-orang muda ini untuk ber-urunan dalam memenuhi syarat agar tim dapat maju dalam bursa pemilihan yang akan diselenggarakan 17 November 2007. Dana terkumpul pada malam itu secara mengejutkan adalah lebih dari Rp 24 juta yang sebagian besar adalah dana urunan sukarela dan pinjaman lunak. Tim ITB Muda Progresif akhirnya terbentuk dengan Zaid Perdana Nasution sebagai juru bicaranya.
Namun wacana ini banyak ditentang oleh banyak pihak yang lebih mempertahankan status quo dan anti-progesivitas. Ungkapan-ungkapan seperti “belum saatnya”, “kalian masih terlalu muda”. “kalian mesti tahu ukuran baju kalian”, dan sebagainya berseliweran dan akhirnya mengejawantah pada sulitnya mendapatkan dukungan dari IA Teknik Lingkungan dan IA Medan. IA Teknik Lingkungan seolah terkunci rapat oleh situasi kepengurusan yang agak ‘beku’ dan IA Medan yang ngotot tidak memberi dukungan karena telah kelanjur mendukung kandidat dari menteri sektretaris negara, Hatta Rajasa – padahal jelas-jelas ada revisi Surat Keputusan yang membolehkan IA daerah memberikan dukungan kepada lebih dari satu kandidat. Sikap IA Jurusan Kimia yang demokratis akhirnya memberikan titik terang. IA Jurusan Kimia menerbitkan surat dukungan kepada juru bicara Tim ITB Progresif untuk maju sebagai Kandidat Ketua Umum IA ITB Pusat. Tindakan demokratis dan upaya bersikap netral ini didukung oleh IA Daerah Jawa Barat yang juga menerbitkan surat dukungan pada malam sehari sebelum batas penyerahan formulir pada lewat tengah malam tanggal 2 Oktober 2007. Antusiasme yang besar dari kawan-kawan melalui komunikasi pesan pendek telepon selular dan e-mail akhirnya memberikan pinjaman dana untuk melengkapi syarat yang diberikan panitia.
Melalui urunan kawan-kawan dua mobil dirental untuk memberangkatkan wakil tim ke Jakarta untuk mencatat sejarah alumni ITB dalam pendaftaran diri sebagai calon kandidat. Tanggal 3 Oktober dana masih kurang sekitar Rp 100 juta sebagai dana jaminan. Beberapa jam sebelum berangkat, dengan bermodalkan semangat yang tinggi, maka Zaid Perdana Nasution, Diding (PK96), dan Hokky (EL96) berutang Rp 80 juta kepada Lembaga Swadaya Masyarakat Inisiatif Bandung, sebuah LSM yang telah dibangun beberapa tahun oleh Diding dan Rp 20 juta dari Gaper (GL95) sehingga cek Rp 100 juta menjadi sebuah realisasi. Komitmennya adalah bahwa hutang ini akan di-share kepada seluruh rekan-rekan pendukung, dan sebelum malam pemilihan harus sudah lunas, karena tak mungkin kita maju dan menang dengan hutang yang dapat menjadi pintu masuk bagi gagasan-gagasan yang tak mencerminkan idealisme yang diusung. Jabatan publik bukanlah sebuah media investasi!
Dengan tanda ikat tangan berwarna merah putih, lebih dari sepuluh anggota tim berangkat ke Jakarta: Jalan Surabaya. Pendaftaran secara resmi diterima oleh Sekretaris Setyo Triyono (EL76), Bendahara Nimrod Sitorus (TI74), Wakil Ket III Syauki (KI85), Tim Verifikasi Noor Cholis (GD88) dan A. Munif (GD87). Epos perjuangan pun dimulai…


