Zaid Sang Perdana


Nu Sering Ditanyakeun (NSD)

Anything You Wanna Know About Proggies But Afraid to Ask

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering diajukan kepada Tim ITB Progresif yang mengangkat Zaid sebagai juru bicaranya untuk menjadi Ketua Umum IA ITB. Kegiatan ini adalah hipotesis, dan kita selalu mencari apa yang membuat hipotesis ini perlu diubah. Selama hipotesis belum diubah, eksperimen akan terus dilanjutkan!

Q: Kenapa sih masih muda udah pingin jadi Ketua IA? Arogan?
A: Setidaknya ada beberapa hal yang memotivasi. Pertama, IA adalah forum silaturahmi alumni ITB yang seharusnya membawa aspirasi muda yang bergairah untuk perubahan, dinamis, dan aktif. Orang muda paling mengerti orang muda, dan orang muda cenderung belum terkooptasi dengan budaya ‘tua’ yang lembam, dan takut terhadap perubahan. Kedua, ada sebuah konjektur bahwa IA ITB cenderung dijadikan sebuah media untuk klaim kekuatan sosial politik bagi yang ‘tua’, dan dijadikan media untuk mencari-cari akses dan “gantungan” bagi orang muda yang kurang progresif dan kurang mandiri. Kondisi ini harus diubah. A Leader is the One who knows the way, shows the way, and goes the way. Pencalonan Zaid sebagai representasi alumni muda adalah bentuk kegerahan alumni muda yang haus perubahan, yang mandiri, murni, dan masih memiliki dinamika dan motivasi yang kuat untuk bergerak. Arogan? Sungguh sayang jika manifestasi kemandirian dan keberanian, semangat juang yang tinggi, dan sifat rela berkorban dituduh sebagai bentuk arogansi!

Q: Apa tidak merasa terlalu cepat naik kelas? Kenalilah ukuran bajumu! Jangan pakai baju yang kegedean!
A: Kelas? Emang alumni ITB punya kelas-kelas sosial? Kami pikir, ITB adalah kampus demokratis, kampus yang egaliter. Kelas-kelas sosial dalam alam demokratis adalah warisan Orde Baru yang rezimnya sudah kita gulingkan, bukan? Apakah IA ITB cuma sekadar “baju”? Yang gampang dilepas dan ditanggalkan? Kita merasa IA ITB adalah sebuah kekuatan sosial budaya yang penting dan bukan sekadar kosmetika yang mempercantik diri untuk mengejar pencapaian superfisial!

Q: Dari mana dapat uang 130 juta? Apa tidak buang-buang duit tuh?
A: Uang kita dapatkan dari donasi rekan-rekan alumni muda ITB yang memiliki keprihatinan bersama. Dalam satu kali pertemuan dengan teman-teman uang yang terkumpul sudah cukup dan dengan pinjaman yang akan kita bayar melalui kerja bareng tim yang bekerja secara paralel dengan tim kampanye, Insya Allah, akan dapat dilunasi. Kita melaporkan semua uang yang masuk dan keluar secara terbuka dan online. Tidak boleh ada uang yang “jalan-jalan” tanpa sepengetahuan publik. Buang-buang uang? Uang yang kita dapatkan adalah amanah, dan bukan untuk “dibuang-buang”. Kita akan memenangkan kompetisi ini! Sungguh disayangkan, semangat muda padam oleh pikiran materialistik. Bersama kita bisa! Zaid sendirian tidak akan mampu mendaftar menjadi kandidat, tetapi dengan bersama kita bisa. Demikian pula nanti setelah kita memenangkan kompetisi ini, kita bersama-sama menjadikan IA wadah kita untuk berjuang, belajar, dan bermain bersama. Seorang senior sewaktu kami kuliah dulu pernah mengatakan, “jika waktu masih jadi mahasiswa gila-gilaan kejar nilai, maka setelah alumni nanti gila-gilaan kejar uang”. Insya Allah kita tidak seperti itu.

Q: Tim ITB Progresif ini banyak dicurigai dapat uang dari mana. Banyak orang kurang percaya dengan integritasnya.
A: Wah, sepanjang pengetahuan kami, dari seluruh kandidat yang ada, hanya kami yang paling terbuka soal dana yang masuk dan keluar selama proses pemenangan ini. Mengapa tidak bertanya, dari mana tim sukses lain dapat dana dari mana untuk bikin acara buka bareng saban hari? Bikin ornamen? Bikin pin? Bikin baligho? Soal ini, kita berani klaim yang paling terbuka. Dana kami diperoleh dari donasi teman-teman, senior atau junior yang memiliki visi yang sama dan ini semua dapat diakses oleh publik melalui internet. Sumbangan dan donasi dari personal pun dibatasi, maksimal Rp 10 juta, tidak boleh lebih untuk menjaga integritas. Nah lho, apa ada tim sukses kandidat lain yang melakukan ini?

Q: Udah mendaftar dan ngasih uang Rp 130 juta. Untuk apa protes?
A: Kita mendaftar dan mengikuti semua persyaratan yang ada untuk menunjukkan bahwa kita patuh pada aturan dan bukan anak muda yang asal tentang dan anarkis. Kita juga ingin menunjukkan bahwa kebersamaan yang erat, semangat dan cita-cita yang tinggi sepantasnya tidak kandas karena urusan uang. Uang bukanlah segalanya. Namun kita memprotes persyaratan yang materialistik ini untuk menunjukkan bahwa kita tidak mau jabatan-jabatan publik hanya dijadikan media investasi. Kita tidak mau ini jadi preseden publik! Untuk jadi pejabat publik mesti mengeluarkan uang sekian juta atau miliar rupiah. Nanti setelah menjabat dia akan jadi permisif untuk melakukan segala cara termasuk korupsi agar dana yang ia habiskan “balik modal”! Sekali lagi jabatan publik bukan media investasi, tapi amanah dan sejatinya adalah manifestasi leadership. Sungguh dangkal jika leadership diukur berdasarkan ketebalan kantong seseorang!

Q: Tim ITB Progresif ini isinya alumni-alumni muda. Udah bikin apa emangnya sehingga berani-beraninya mencalonkan diri jadi ketua umum dan pengurus IA?
A: Pertanyaannya adalah bukan apa yang sudah kita lakukan, tapi apa yang akan kita lakukan!

Q: Emangnya mudah mengurusi IA ITB?
A: Tentu tidak! Tapi kita yakin bahwa dengan apa yang kita miliki, kita sanggup. Apa yang terjadi jika tidak ada pemikiran hipotetikal? Tidak ada kemajuan! Kita memberanikan maju adalah bentuk manifestasi kita akan hipotesis bahwa anak muda memang mampu memimpin dan menjadi pengayom, bahwa anak muda cenderung masih bersih dan belum terkooptasi oleh banyak hal-hal yang melawan semangat progresifitas, bahwa anak muda itu dinamis, jujur, berani, dan ulet!

Q: Tak takut dijegal?
A: Berani karena benar, takut karena salah! Ancaman dan gangguan yang berusaha melunturkan nyali sih sudah banyak. Tapi lagi-lagi, ya, berani karena benar, takut karena salah!

Q: Apakah akan ada black campaign?
A: Kita menolak segala bentuk penjelek-jelekan terhadap kandidat lain. Kandidat lain bukanlah musuh. Yang menjadi musuh adalah mereka yang berfikir sok tua dan yang mematahkan semangat muda yang rindu akan perubahan dan dinamika meskipun terkadang mereka sebenarnya masih muda.

Q: Akan ada pintu-pintu koalisi?
A: Koalisi adalah sebuah jalur dalam proses demokrasi yang berlandaskan keterwakilan, untuk apa dihambat? Mereka yang muda atau memiliki semangat muda meskipun sudah tua adalah kawan.

Q: Kenapa saya harus memilih Zaid atau Tim ITB Progresif ini daripada kandidat lain? Emang punya kelebihan apa?
A:Sederhana! Zaid bukan siapa-siapa, pun orang-orang di Tim ITB Progresif. Mereka tak punya pengawal atau bodyguard, tak perlu protokoler untuk bertemu, kami masih sering (bahkan suka?) naik angkot dan kendaraan umum, apalagi jalan kaki. Anda tak punya beban psikologis apapun untuk menyampaikan uneg-uneg pada Zaid atau Tim ITB Progresif, tak perlu segan secara natural, karena toh masih seumuran, masih tak begitu jauh jarak usianya. Jika Zaid dan Tim ITB Progresif memegang kepengurusan IA ITB, tawa ngakak tak perlu ditahan-tahan dengan alasan sopan santun atau tata krama, ucapan, aspirasi, bahkan skeptisisme boleh keluar dengan jujur dan murni. Tak ada keseganan secara natural. Kita semua sama… Dijamin, anda tak akan mendapatkan hal ini dari kandidat yang diusung tim sukses lain, insya Allah!

Q: Apa sih yang dimaksud dengan progresif? Gaya-gaya-ankah?
A:Progresif mengandung pengertian keinginan untuk pembaharuan dan tidak pro pada status quo. Di sini, progresifitas dimaksudkan sebagai cermin, bahwa dalam kepengurusan Tim ITB Progresif, IA ITB akan mengalami banyak perubahan kultural. Di sini, dari sisi yang sangat superfisial seperti usia tim kita yang relatif sangat muda, sebuah perubahan dan pembaharuan seharusnya sudah cukup tercermin. Selama ini, IA ITB yang cuma jadi sekadar forum silaturahmi yang secara aktual “terkadang” berbelok ke berbagai arah yang pada akhirnya menjadi tempat klaim sosial politik atau sekadar kemudahan akses yang tidak mencerminkan kemandirian, akan berubah menjadi sebuah media kekuatan baru untuk kontribusi aktif dan nyata di tengah-tengah masyarakat Indonesia. IA ITB seharusnya menunjukkan kekuatannya untuk sekaligus melakukan pembaharuan dalam kaitan kehidupan alumnus ITB dengan kemahasiswaan dan kehidupan kampus ITB, realitas alumni ITB dengan pembaharuan kehidupan sosial masyarakat, dan pembangunan solidaritas dan kebersamaan di antara sesama alumni ITB. Dalam hal ini, kita mungkin dapat membayangkan, bahwa ketika kebersamaan dan solidaritas telah berhasil dirajut semenjak kita mendaftarkan dan mengumpulkan dukungan dan dana untuk pendaftaran kandidat, maka dalam kegiatannya nanti IA ITB juga akan menjadi seperti itu: kental dengan nuansa partisipasi dari anggota IA ITB secara aktif. Ini yang kita ketengahkan dengan label “progresifitas”. Hal ini jelas bukan gaya-gayaan, dan justru menjadi sangat serius?! Sifat progresifitas seharusnya tercermin, semenjak pendaftaran hingga nantinya ke penyusunan program kerja. Yup, ini jauh dari apa yang kita sebut gaya-gayaan….

Q: Ini gerakan anti “orang tua” ya?
A: Sama sekali tidak! Senior adalah panutan. Gerakan melawan kebekuan dan kebekuan pikiran adalah ajaran senior kita melalui aktivitas mereka terdahulu. Refleksi atas situasi kemasyarakatan kita saat ini yang stagnan mendorong kita untuk maju. Kita terbuka pada generasi yang lebih tua dalam perannya sebagai tut wuri handayani. Kita belajar banyak dari generasi yang lebih tua, melalui sejarah, melalui diskusi… Kita merasa tindakan ini adalah sebuah tindakan yang menunjukkan rasa cinta pada generasi yang lebih dulu, cinta pada keadaan yang lebih baik. Pendeknya ini bukan soal tua atau muda dari sisi umur. Istilah muda adalah sebuah metafora yang melambangkan kecintaan akan dinamisasi dan perubahan ke arah yang lebih baik. Pada generasi tua, bimbinglah dan nasihatilah kami, namun jangan halangi kami menjadi pemimpin.