Tim Proggie telah menerbitkan buku yang berisi segala deskripsi dan argumentasi serta paparan program kerja Ikatan Alumni ITB 2007-2011 yang akan dilaksanakan jika kita memenangkan pemilihan Ketua IA ITB 2007-2011 ini. Rekan-rekan alumni dapat mengaksesnya di alamat:
atau dapat mendownload versi PDF-nya di:
http://proker.files.wordpress.com/2007/11/total.pdf
Salam hangat dari Tim Proggie! Mari menangkan pemilihan ini!
Pada tanggal 7 November 2007 yang lalu, Ketua masa depan IA ITB, Zaid Perdana Nasution, mewakili Tim ITB Progresif mengikuti hearing dan debat kandidat Ketua IA ITB di Cilegon, Banten. Dalam hearing ini hadir kandidat Betti, kandidat Hatta yang diwakili oleh Amir Sambodo, kandidat Boyke, dan kandidat Triharyo. Presentasi kampanye Zaid adalah “Majunya Tim Proggie dan Leadership berwawasan Kebangsaan”. Presentasi kampanye ini berisi materi tentang bagaimana rancang bangun kemudaan dan visi dasar dari IA ITB yang ingin dibangun dalam semangat dan jiwa muda untuk memperbaharui keadaan IA ITB, ITB sendiri, dan akhirnya Indonesia. Berikut petikannya orasi kampanye Zaid….
Assalamualaikum wr.wb.
Perkenalkan nama saya Zaid Perdana Nasution saya alumni Teknik Lingkungan angkatan’96 dari Medan. Saya disini mewakili Tim ITB Progressif . Tim ITB Progressif merupakan kumpulan dari teman-teman alumni ITB angkatan 1993-2003 dari berbagai jurusan dan angkatan yang selama ini merasa resah dan gelisah. Resah dan gelisah karena selama ini ikatan alumni ITB dipimpin oleh orang-orang besar, dipimpin oleh pejabat namun mengapa kita yang masih muda-muda, kita yang baru lulus setahun, dua tahun dari kampus sulit sekali untuk kita menemukan tempat dimana kita bisa merasa nyaman untuk beraktivitas dalam kegiatan alumni ITB. Jadi kita dan beberapa teman-teman mencoba. Beberapa di antaranya yang sudah berpengalaman beraktivitas dalam kegiatan tersebut merasa bahwa ada potensi yang cukup besar yang kita miliki. Kita memutuskan bahwa bila kita selama ini memberikan suara kepada abang-abang kita, sementara kita juga memiliki jaringan, kita juga punya resource, kita juga punya kemampuan.
Anggota Tim Progresif ini di antaranya adalah direktur dari suatu LSM, Inisiatif yang memiliki cukup pengalaman di seluruh Indonesia, juga angkatan ’96 dan salah satunya adalah merupakan seorang presiden dari suatu institute of complexity, research of sosial complexity, studi kompleksitas sosial yang belum pernah ada di Indonesia yang berada di Bandung, Bandung Fe Institute. Dan yang lain di antaranya juga merupakan presiden direktur dari perusahaan general dipulau Jawa dan Kalimantan. Dan ini merupakan kombinasi dari teman-teman muda yang ada sekarang. Dan kita merasa bahwa ketika kita maju sebagai tim kita akan mendapatkan apa yang kita harapkan. Kita tim progressif bukan berarti mengesampingkan rekan-rekan lain yang lebih senior. Artinya dengan adanya kami, teman-teman yang lebih senior akan lebih mudah mengontrol kita, dan lebih mudah untuk membawa organisasi dan membimbing kita ke arah yang lebih baik.
Alasan kami maju adalah kami ingin mengkonstruksi masa depan kami sebagai alumni muda. Di mana kami tidak menginginkan ketika kami, ketika kita dua puluh tahun ke depan melihat Indonesia masih seperti sekarang ini korupsi semakin tinggi, biaya kuliah semakin mahal, biaya kesehatan juga dan semua terkapitalisasi terkomersialisasi sedemikian rupa. Jadi kami ingin masa depan kami lebih baik untuk itu izinkan kami untuk memimpin IA ITB agar kebersamaan kita kedepan bisa menjadi lebih baik.
Kemudian ada masalah dalam kealumnian kita. Ketika ke belakang dipegang oleh pejabat menteri tapi periode kemarin pemilihannya hanya diikuiti dari 2500 pemilih. Hanya 6% dari empat puluh ribu pemilih. Dan mayoritas pemilih adalah teman-teman kandidat dan kita yang muda-muda lebih banyak adalah yang merupakan aktifis kampus dan beberapa yang bukan aktivis kampus kepedulian, awareness-nya rendah sekali. Jadi kita melihat suatu masalah adalah adanya kemanfaatan yang cukup rendah. Dan lebih parah lagi ketika kami medengar dalam technical meeting sebelum pencoblosan ternyata pengurus pusat tidak memiliki database! Sebuah hal yang sangat sederhana dengan orang-orang yang sangat luar biasa, hal seperti itu saja tidak dapat diselesaikan. Kita khawatir kesempatan ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang pada akhirnya mengatasnamakan alumni ITB yang lain. Dan kita tidak mau itu terjadi…
Alumni ITB bisa kita lihat dari dua gambar. Yang pertama adalah alumni ITB dengan segmentasi yang bermacam-macam yang saling berinteaksi tanpa adanya suatu payung kebersamaan. Dan yang kedua adalah di mana interaksi yang terjadi antara alumni ITB dengan segala potensi yang ada oleh ikatan alumni ITB menjadi terpusat.
Kita tidak menginginkan program –program yang terinisiasi secara sentralistik oleh pengurus. Kita melihat banyaknya alumni ITB dengan kapabilitas yang besar dengan minat yang bermacam-macam ada yang seniman, ada yang filosofis, ada yang budayawan, ada yang ekonom, ada yang senang di politik, ada yang senang di musik dan dengannya kita mengharapkan segala macam potensi kreatif yang ada dalam alumni ini dapat bergerak bersama dan kemudian membesar secara bottom-up. Dan pada akhirnya kita menyebutnya suatu proses partisipasi.
Kita tidak berasumsi bahwa kita lebih tahu apa yang diinginkan oleh pemilih. Alumni ITB dengan segala kebersamaan dan kebesarannya sulit untuk dimengerti apa dan seberapa banyak yang menjadi kebutuhannya. Namun ketika kita berkumpul dalam kelompok-kelompok menjadi satu dengan segala bentuk kebersamaannya hal tersebut akan terakomodasi dengan baik.
Inilah pola yang kita bentuk selama ini…
[menunjuk slide]
Terdapat agen-agen yang terbentuk melalui pola pertemanan dan dalam suatu pola interaksi dan kita mengharapkan dari sini akan muncul program-program dari berbagai macam kelompok tersebut yang kemudian akan mendukung kita dengan segala macam kepentingan mereka. Dan dengan pertemanan yang lebih dekat maka akan lebih mudah mengakomodirnya.
Ini adalah kegiatan alumni ITB sebelumnya…
[menunjuk slide]
yang terpisah-pisah dan sungguh menyedihkan. Sebesar itu alumni ITB namun kegiatan yang dilakukannya sungguh menyedihkan. Dengan kebesarannya yang kita miliki…….
Ini yang akan kita lakukan…
[menunjuk slide]
alumni-alumni di Indonesia , alumni-alumni ITB. Kita bisa melihat adanya kebersamaan sebagai alumni ITB dan Indonesia yang harus saling berhubungan dan berinteraksi dan sebagai suatu kesatuan dan berkoordinasi di dalamnya.
Yang terakhir, memilih Zaid berarti menunjukkan kepada dunia, kepada bangsa, bahwa yang muda dengan segala kebersamaannya bisa menjadi pemimpin. Kita bisa memulai tren kepemimpinan baru di sini sehingga perubahan yang mendasar dapat segera diwujudkan. Kami tidak yakin jika ikatan alumni ITB dipegang bukan oleh generasi muda akan memberikan statement yang sangat kritis terhadap pemerintah. Namun jika kita dipimpin oleh yang muda hal itu sangat mungkin. Dengan bantuan abang-abang dan kakak-kakak senior yang mungkin sudah melihat berbagai kesulitan dan dengan berbagai masalah seperti mahasiswa sekarang yang semakin tidak mandiri, semakin cengeng dan segala macam masalah lainnya dapat kita selesaikan bersama-sama. Kemudian hal ini akan mendorong tren aktivitas anak muda baik di tingkat pusat maupun daerah. Yang dahulu mungkin kurang alumni mudanya, maka dengan kami maju, mudah-mudahan kami menang, itu akan menginduksi alumni ITB di tempat dan di daerahnya masing-masing.
[applause]
Refleksi Sumpah Pemuda dan Urgensi Tim ITB Progresif dalam Suksesi Ketua IA ITB
Hearing Kandidat Ketua Umum IA ITB Semarang, 28 Oktober 2007, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda 1928. Debat kandidat ini diikuti oleh kandidat Betti, kandidat Hatta yang diwakili oleh Amir Sambodo, kandidat Zaid Perdana (Tim Proggie) yang diwakili oleh Hokky, kandidat Boyke, dan kandidat Hengky. Tim Proggie merefleksikan Sumpah Pemuda, silaturahmi yang berdasar pada sustainabilitas resiprokal, dan alasan yang penting dalam hipotesis kepemimpinan muda di IA ITB. Berikut adalah petikan refleksi yang dibawakan oleh Tim Proggie:
“Saya mungkin agak berbeda pendekatannya [dengan presentasi kandidat lainnya], saya ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan sebentar Sumpah Pemuda dan urgensi tim ITB Progresif dalam suksesi Ketua IA ITB. Jadi, Zaid tidak hadir di sini bukan semata-mata karena Zaid sedang berhalangan karena sedang ada acara refleksi sumpah pemuda di Bandung, tapi karena kita memang maju secara tim. Jadi ketika saya maju berdiri di sini itu juga adalah sama seperti Zaid sendiri dan juga teman-teman di tim yang lain. Saya adalah anggota Tim Materi Zaid untuk IA ITB – ini memang harus dibedakan dengan [kandidat] yang lain.
Ini adalah sebuah skema, apa sebenarnya yang disebut dengan sebuah momen Sumpah Pemuda, momen untuk bersama-sama. Ini adalah dulunya salah satu bentuk hasil pekerjaan dari tim kita yang berbicara tentang studi kontrak sosial waktu itu dengan menggunakan Prisonners’ Dilemma. Nanti ada beberapa referensi yang bisa dielaborasi lebih lanjut.
Intinya adalah bahwa yang namanya kerja sama, kebersamaan, itu sebenar nya dapat dimunculkan dari kondisi yang non-kooperatif. Pendekatan yang ditujukan oleh pemahaman klasik, Hobbesian, sosiologi klasik banget, mengatakan bahwa silaturahmi, yang namanya kebersamaan, itu akan muncul secara top-down, harus oleh pemimpin. Tapi sebenarnya kebersamaan yang lebih kuat – yang ditemukan dalam sosiologi [politik] modern, [seperti ditunjukkan bukunya] Prof. Bob Axelrod – justru menunjukkan bahwa kebersamaan kuat muncul dari bawah, secara bottom up. Jadi, cooperation can be emerged from the non cooperative schemes. Ini ada diskusi detail matematisnya tentunya. Nah, dari penelitian ini dikatakan dua hal, bahwa yang namanya kerja sama akan muncul jika terpenuhi dua syarat. Yang pertama, adanya resiprokalitas [yang sustainabel]. Artinya, ada interaksi di antara kita. Jadi, percuma bicara soal kebersamaan, persatuan, silaturahmi, kalau kita jarang sekali berinteraksi. Kalau kita hanya berinteraksi sekali dalam satu tahun atau bahkan satu kali dalam empat tahun, atau lima tahun. Yang kedua, agen orang dalam terminologi sosial harus berfikir bahwa dia akan berinteraksi lagi dengan orang lain itu. Jadi, kalau saya berinteraksi dengan satu orang kandidat yang ada di sini dan saya berfikir bahwa saya tidak akan berinteraksi lagi dengannya, saya akan defect, saya tidak akan mau ber-altruistik dengannya. Tapi kalau saya berfikir bahwa besok saya akan berinteraksi lagi dengan dia, artinya ada kemungkinan berhubungan lagi dengannya, maka saya akan berusaha untuk berkooperasi.
Apa yang mau kita pelajari dari sini? Di sini kita lihat bahwa kerjasama yang kita bangun melalui alumni ITB, bukanlah kerjasama sebagaimana kita ingin membangun sebuah perusahaan, sebuah enterprise yang besar, tapi lebih pada sebuah kebersamaan yang berakar pada “silaturahmi”.
Jadi adanya inisiasi sebaran kesadaran kognitif individual seperti halnya Budi Utomo, sebenarnya mungkin setara dengan kebersamaan sebagai satu almamater, setara dengan kebersamaan dan kesatuan di antara kita yang terbentuk dengan apa yang sedang kita peringati hari ini, Kongres Pemuda Kedua yang … berujung pada deklarasi Kemerdekaan tahun 45,
…………….dan inilah [menunjuk slide] yang kita sebut dengan ikatan alumni ITB.
Tiga ini, sebenarnya yang perlu kita refleksi. Hari ini sebenarnya adalah hari yang sangat penting, setidaknya tadi saya mencatat dua hal yang penting. Yang pertama adalah, hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda, hari kita memperingati bahwa jiwa mudalah yang membawa kita merdeka, jiwa mudalah yang membuat kita bersilaturahmi, jiwa mudalah yang membuat kita bersatu dan bersama
[aplause]
……..dalam Indonesia. Yang kedua, yang juga penting adalah bahwa ini adalah kota Semarang, di kota ini dibangun Tugu Muda. Tugu Muda adalah lambang yang menunjukkan bahwa adanya semangat muda….
[aplause]
yang mati [tewas] …….dalam pertempuran lima hari itu, bukanlah hanya orang-orang muda usianya saja tapi juga yang tua, yang juga memiliki semangat muda.Dan semangat inilah yang mau kita bangun di dalam kebersamaan kita disini, bersama-sama juga dengan kandidat lain.
Jadi apa yang menjadi raison d’ etre kita disini berada, kenapa kami maju, kenapa angkatan ’96 sudah berani-beraninya maju. Yang pertama adalah, kita merasa bahwa kita butuh adanya sustainabilitas, kita butuh IA ITB, dan kita tahu bahwa temen-teman yang mengatakan untuk apa sih IA ITB, bukan hanya yang muda tapi justru yang tua juga. Yang tua mengatakan untuk apa IA ITB toh kebutuhan saya akan silaturahmi sudah tercukupi, atau yang muda yang mengatakan saya kan masih mencari kerja untuk apa IA ITB, saya kan masih ini-itu…
Tapi kita butuh IA ITB, kita butuh resriprokalitas, kita butuh interaksi. Interaksi mesti diperbanyak di antara kita. Jangankan angkatan ’80-an, 70-a, atau 60-an angkatan 90-an pun 5 tahun setelah lulus berapa persen mereka yang masih berinteraksi dengan sesama angkatannya. Itu survey yang sedang direncanakan, yang perlu segera dipublikasikan. Kemudian yang kedua, ini lebih ke arah spirit, kita butuh social leadership yang lebih bercorak muda, baru,yaitu kemudaan. Dan karena inilah kami tampil sebagai ini itu. Dan kami tahu bahwa tidak mungkin Zaid sendirian atau kami tim materi sendiri-sendiri maju, ya kita maju bersama-sama. Prinsip resiprokalitas di antara kami, interaksi yang ada diantara tim kita, ingin kita tularkan juga kepada teman-teman yang lain, tak peduli angkatannya, tidak peduli jurusannya, tak peduli golongannya. Itu yang ingin kita bangun sebenarnya.
Intinya adalah menggunakan IA ITB sebagai sebuah kekuatan sosial budaya untuk masyarakat Indonesia, masyarakat kampus ITB, dan masyarakat alumni. Kita sadar bahwa kebersamaan kita di IA ITB sebenarnya memiliki satu prinsip kemudaan, punya ruh kemudaan di situ dan itu yang ingin kita kedepankan.
Inilah IA ITB, dia berkoneksi dengan masyarakat kampus, masyakat Indonesia secara umum dan juga dengan dirinya sendiri, dengan para alumni ITB sendiri. Resiprokalitas tidak hanya ada di kalangan alumni tapi juga diperluas kalau bisa.
Inilah perspektif kita……..
Inilah kondisi objektif…..
Tiga gambar tadi menjadi tiga gambar ini…….
Sebenarnya setelah ini ada program namun sepertinya tidak sempat mengelaborasinya ya……….
Memilih Zaid atau tepatnya memilih tim ini, artinya adalah mengubah mitos bahwa yang muda belum boleh bicara, ITB adalah [mungkin] institusi pertama di Indonesia yang dimana yang tua membolehkan untuk dipimpin yang muda, kalau kita menang.
[aplause].
Kitalah yang pertama, kitalah yang menjadi pionir. Yang kedua, merubah mitos sehingga jabatan ketua IA ITB adalah jabatan yang terbuka bagi siapapun yang berkomitmen, tanpa memandang usia, sifat egaliter, dan kekeluargaan yang unik. Jadi, mitos bahwa harus ada jabatan tertentu untuk jadi ketua IA ITB kita hapuskan disini. Dan IA ITB Dalah institusi pertama yang riil memungkinkan hal ini.
Yang ketiga, kita menghapus ketentuan diskriminatif dan pembatasan akses dalam pencalonan ketua IA-ITB. Karena kita memang bermain di arena resiprokalitas. Kita tidak mau kumpul hanya kumpul sekali dalam setahun, kita tidak mau kumpul hanya sekali dalan empat atau lima tahun, saya tidak mau kalau saya bertemu teman-teman di Semarang , bertemu dengan teman-teman di Medan, Balikpapan hanya sekali dalam lima tahun. Kapanpun seharusnya kita bisa berinteraksi, tidak perlu harus ada event semacam ini. Kalau perlu kita bikin pemilu setiap bulan!
[tertawa, aplause].
Yang pasti intinya adalah untuk semua ini, kita tahu bahwa ITB adalah kampus terbaik dan kita mau ajak kawan-kawan untuk bersama-sama menunjukkan yang terbaik dengan manampilkan kepemimpinan yang muda yang sebenarnya telah tercermin dalam sejarah negeri yaitu momen Sumpah Pemuda. Terima Kasih.
[aplause]
transkrip*
Diskusi dan Langkah Nyata Calon Ketua Ikatan Alumni ITB Periode 2007-2011
Membangun Enterpreneurship, Industrialisasi, dan Knowledge-based Economy dari IA-ITB untuk ITB dan Indonesia
Aula Barat ITB, 2007/10/05 14:00-17:00
Perkenalkan diri saya. Nama saya Rolan Mauludi Dahlan, Teknik Industri, angkatan 2000.[applause]
Saat ini saya bekerja, berprofesi sebagai peneliti di Bandung Fe Institute dan Surya Research International.Saya di sini mewakili Tim ITB Progresif yang mencalonkan kandidat Zaid Perdana Nasution** …
[applause]
… sebagai ketua ikatan alumni.
Jadi, saya di sini sangat bangga sekali kepada ITB, kepada kultur demokratisasi yang kita bangun. Ternyata, iklan yang ada di sini …
… tidak sepenuhnya benar.
[laughter]
Tadi malam, kami telah dikirimi ToR dan kami telah menyiapkan makalah***. Tapi sayang sekali, makalah ini tidak dibagikan, dan hanya ada slide.










