Zaid Sang Perdana


Teriak!
2007/10/18, 23:35:07
Filed under: ITB, Publik, poet, poetry, puisi

puisi opening OSKM 2004 (by:Hokkop)
Rabu, 25 Agustus 2004

Selamat senja nafasku!!
Jikakah kalian melihat kuasa bertengger dipundakku?!
Jikakah kalian melangkah dialtar masa dan keringat?!
Jikakah kalian sadar ada ikrar yang musti dipertahankan?!
Buka matamu nafasku !!
Lihat dan resapi dingin lantai-lantai gedung
Yang diam jadi saksi

Perjuangan bukan kata-kata
Perjuangan adalah pelaksanaan

Berteriak… berteriaklah nafasku!!
Mana penamu mengukir sejarah ?!
Mana lakumu Menjadi panji bagi tanah ini?!
MERDEKA hanya secarik kertas bagimu bukan?
MERDEKA tak lebih dari komedi tolol…
MERDEKA tak berubah menjadi beras…

Kalian terjajah…
Kalian terjajah dalam ideologi semu kebangsaan…
Kalian terjajah dalam rintik mentari menghunjam
Pernak-pernik gaya hidup…
Kalian terjajah dalam kesendirian
Kalian terjajah dalam kerasotak dan belati ego
Menutup mata yang seharusnya menangis

Aku menuntut kemerdekaan bangsa
Aku menuntut kemerdekaan atas sungai-sungai dan bukit
Aku menuntut kemerdekaan atas bumi yang kupijak
Aku menuntut kemerdekaan hak-hak sebagai manusia
Aku menuntut kemerdekaan mahasiswa !!

Aku hari ini menutup masa sejarah Bung Karno
Aku hari ini menutup masa sejarah Bung Hatta
Aku hari ini menutup masa sejarah Soedirman, Dhien, Pattimura, dan Gatot Kaca !!
Kebesaran mereka adalah milik mereka !!

Aku butuh udara…
Aku butuh nafas-nafas baru…
Yang terhenyak dalam batin dan kenistaan bangsa…
Yang membuka mata pada keruntuhan bumi !
Yang pada tebing suara menghancurkan tembok-tembok tirani
Aku butuh kalian nafasku…!

Tak adakah kalian mengerti…
Merdeka adalah menghirup udara
Merdeka adalah terbang kelangit dan mendarat
Berenang pada samudera…
Merdeka adalah ketidakterbatasan mengatur apa yang menjadi hak-hak bangsa ini…!

Nafasku…
Nafasku…
Nafasku…
Satu dari kalian adalah nyawa bagiku…
Ingat… satu dari kalian adalah nyawa bagiku…
Selamat sore nafasku…

Dan aku hanya ingin teriak merdeka!!

(karya: Hokkop SI 98’, dibawakan oleh: Ahmad dan Hokkop, dibawakan pada pembukaan OSKM ITB 2004 )

Akankah cukup masaku

Dan kembali lagi satu masa telah berlalu

Pada masa surga bumi aku kembali menoreh sejarah

Masa dan petisi merobek-robek kertas tekadku

Merintih aku dan air mata menitik pada alam

Sudah…

Sudah cukup aku tertatih

Sudah cukup masaku menanti

Sudah cukup kau toreh belati siksa pada kesan dibenakku

Sudah cukup teriakku menjadi kelam pada alam

Sudah cukup aku berjanji…

Ijinkan aku berlaku dan bersaksi

Pada rentetan syair-syair lagu ikrarku

Bunda pertiwi…

Aku lelah hari ini…

Merapat pada laksa pelangi mendaki

Geram nafasku kala meremas tanah

Kala merah bumi memanas mencabik-cabik sumpahu…

Aku lelah hari ini…

Beraniku surut kala tak lagi satu pohon menutup lahan dan janiku

Aku adalah panji

Dan ujarku adalah saksi bagi seribu samudera

Aku akan berlaku kala kataku tak cukup untuk menjadi saksi

Aku akan berlari kala hari tak lagi merebut pagiku

Aku adalah panji

Penegak dan pemegang sutra bendera dan genderang kebenaran

Aku adalah panji-panji tanahku

Pengangkat beban pertiwi kala mendaki semeru bahkan neraka

Aku adalah panji-panji tanahku

Bahkan lelah takkan merenggut habis nafasku

Hingga tak satu asa tertatih mengemban derita

Kala itu pula masaku akan berakhir disisi-Mu

Aku adalah panji-panji tanah airku…

(karya: Hokkop ‘98, Dibawakan oleh Ahmad ‘99 pada LKO HMS)



Beriring Takbir Membelah Bambu
2007/10/13, 06:45:42
Filed under: Publik

selamat-lebaran.jpg

Di tengah pukulan beduk yang bertalu-talu dan kumandang takbir Idul Fitri, para proggie muda terus bekerja dengan gembira mempersiapkan logistik kampanye yang diperlukan. Tentu saja hal ini bukan perkara gampang mengingat hambatan utama adalah keterbatasan dana kampanye yang dimiliki tim proggie. Namun kreativitas rupanya tidak terbatas oleh ada atau tidaknya materi atau uang, kreativitas menjadi layaknya sungai yang meluap ketika semangat menjadi bahan bakarnya. Dengan segala keterbatasan, gardus bekas, spanduk bekas, bambu bekas, kain bekas, baligo bekas dan bahan-bahan bekas lainnya pun disulap menjadi baligo, x-banner, pin, spanduk, umbul-umbul, poster dengan kualitas yang tidak kalah dengan hasil produksi pabrik. Salute proggie !

Bagaimana bisa? Rupannya, dunia kemahasiswaan ITB banyak meninggalkan skill-skill khusus pada para alumni mudanya untuk tetap survive di tengah berbagai keterbatasan. Ketrampilan yang lahir bukan dari situasi kemapanan materi, namun justru muncul dari upaya untuk mengatasi minimnya fasilitas ketika akan berkegiatan. Rasanya pemeo saat di kampus dulu bahwa ”cukup dengan sebatang rokok dan secangkir kopi, ide dan kreativitas bisa lahir” masih sangat relevan. Namun tentu saja hal yang sangat penting adalah semangat kemudaan yang progresif. Semangat yang tumbuh lewat kematangan wacana dalam diskusi-diskusi yang kaya akan dialektika. Yah, majunya tim ITB progresif dalam Pemilu IA ITB dengan mencalonkan Zaid Perdana Nasuiton telah melewati tahapan tersebut. Sebuah proses yang dalam bahasa kami adalah sebuah eksperimen untuk mencari anti hipotesis dari hipotesa kami bahwa kaum mudalah yang mampu membawa perubahan dan perbaikan terhadap IA ITB. Alhamdullilah, sampai saat ini kami belum menemukan argumentasi yang mampu meruntuhkan hipotesis tersebut. Akibatnya, eksperimen pun tidak akan berhenti sampai kami mendapatkan jawabannya.

Tentu saja hambatan yang dihadapi tidaklah sedikit. Mulai dari respon penolakan kawan-kawan alumni yang notabenenya sepantaran (dalam usia tapi bukan dalam semangat) dengan kami melalui kalimat ”baju yang kebesaran” lah, ”belum saatnya” lah ataupun hambatan-hambatan teknis seperti biaya. Namun sekali lagi kami ingin mengatakan bahwa sebagai orang muda (dalam semangat), kami tidak akan mundur dengan tantangan tersebut. Kami hanya berhenti ketika segala argumentasi yang melandasi eksperimen kami dapat diruntuhkan. Toh, kata Soekarno bahwa orang besar hanya bisa lahir dari proses yang “up and down” . Terlebih kami yakin bahwa sangat banyak kawan-kawan yang mempunyai pemikiran sejalan dan sepakat dengan ide yang kami usung. Dari merekalah kami mengharapkan doa dan bantuannya. Bantuan paling minimal adalah memlih Zaid pada saat pemilihan nanti dan paling maksimal adalah bergabung dengan kami dalam tim proggie, Tim ITB muda yang progresif (A1).

selamat-lebaran.jpg