Zaid Sang Perdana


Pidato Hasil Pemilihan
2007/11/19, 00:48:12
Filed under: IA-ITB, ITB, Pemilu, Politics, Politik, Publik

Pidato Akhir

Assalamualaikum wr. wb.

Saudara-saudara kami alumni ITB yang terhormat,

Adalah mudah bagi kita semua untuk menerima kekalahan dari sebuah kompetisi yang adil, dalam pengertian in the same level playing field, yang berdasarkan pada kompetensi dan kapabilitas, yang berdasarkan pada sebuah sistem kompetisi yang jujur aturan dan jelas segala rule of the game-nya dan asas kesetaraan.

Harus kami akui, bahwa sangat berat bagi kami untuk menerima kekalahan, bukan karena kami tidak satria, dan bukan pula oleh karena tidak memiliki kelapangan dada. Dengan landasan kejujuran, kami harus mengakui rasa kekecawaan kami atas turnamen dan kontes yang baru saja kita mainkan.

Satu hal yang jelas adalah bahwa ketidaksamaan usia bukanlah suatu hal yang membuat kami kalah dalam kompetisi ini. Ketidaksamaan modal dan uang yang tergulirkan selama kampanye mungkin merupakan hal utama yang menyebabkan kita kalah. Namun kita juga sadar, bukankah itu pula yang selalu membuat negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia juga selalu kalah dalam kompetisi ekonomi, politik, sosial, budaya dan banyak sektor lain di kancah internasional?

Kekalahan kami di sini…. atau mungkin saya jadi lebih suka mengatakan kekalahan kita di sini harus menjadi refleksi bahwa modal semangat, kejujuran, ketulusan, dan hati nurani atau konsep yang kuat saja terkadang tak cukup untuk memenangkan persaingan di dunia kita yang serba diatur oleh uang ini. Uang dapat mengaburkan nilai-nilai ideologis! Kondisi ini diperparah dengan satu kondisi lain, yaitu kecintaan akan uang yang materialistik. Yang terakhir ini melahirkan kebiasaan korupsi yang tinggi.

Korupsi merupakan sebuah penyakit bangsa secara aktual di negeri kita. Ketika leadership kultural negeri kita didominasi oleh ITB, kita juga menyaksikan banyak abang-abang dan kakak-kakak kita tak henti-hentinya melakukan hal serupa ini. Ini sungguh memilukan hati kami yang berdiri berlandaskan nilai kejujuran dan akuntabilitas yang kita usung di Tim Alumni Muda ITB Progresif.

Korupsi atas senilai uang, menjadi bahan bakar untuk transformasi korupsi bentuk lain, mulai dari korupsi waktu, korupsi aturan dan hukum, bahkan yang terparah korupsi nilai-nilai etika dan moral. Hal-hal materialistik memberi peluang munculnya kedengkian. Selama kampanye banyak sekali kita mendengar bentuk-bentuk kampanye yang negatif. Selama berjuang di tim alumni ITB progresif, kita bahkan mendengar tentang upaya klaim yang bagi kami sangat sadistik terhadap gerakan dan aktivitas kemahasiswaan, bahwa si X, si Y, si Z, adalah (dalam tanda petik) pemimpin gerakan mahasiswa yang mendukung kandidat anu. Banyak hal kemudian diklaim sebagai pekerjaan pribadi padahal merupakan pekerjaan kolektif. Kebersamaan, gotong royong, perasaan bersama, direduksi menjadi sebuah klaim personal.

Rekan-rekan kami alumni ITB,
Kami maju dengan semangat muda yang bersih dan progresif dengan konsep yang jelas memperbaiki organisasi kita, IA ITB, kampus kita, dan masyarakat kita. Banyak hal tentu yang dapat diambil sebagai pelajaran oleh kandidat-kandidat lain dan para pendukungnya ketika kami maju sebagai kandidat paling muda dalam sejarah berdirinya IA ITB – sama seperti kami juga banyak belajar di sini.

Namun kejujuran, ketulusan, kepercayaan diri, dan sifat kepemimpinan dan kolektivitas agaknya memang terlalu mahal harganya. Kita mesti menjaga ini semua, rekan-rekan! Kita mesti menjaga hal-hal ini dan semangat muda yang menyertainya agar kita tidak pernah pundung untuk tetap berjuang dan ber-inovasi demi kemashlahatan bersama. Apa yang sudah kita alami beberapa minggu belakangan ini mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tidak pernah berhenti kepada hati nurani dan kemurnian gerakan.

Kita tak mau ITB itu menjadi berstatus world class university tapi menjadi lembaga kaderisasi koruptor. Kita tidak mau berbagi bersama dengan mereka yang merongrong bumi pertiwi. Kita tidak mau membawa kebersamaan kita sekadar untuk memajukan sesosok kultus inidividu! Kita tidak mau IA ITB hanya akan dijadikan tempat untuk tempat nangkring tenaga kerja profesional murah yang miskin inovasi. Yang kita mau adalah inharmonia progressio, kebersamaan yang nyata dan selaras demi kemajuan kampus kita dan bangsa kita tercinta.

Dengan semangat ini, kami mengucapkan selamat kepada rekan, kawan, senior, kakak kami, bang Hatta, atas keberhasilannya unggul dalam pemilihan ketua IA ITB 2007-2011 ini. Semoga amanah yang dipercayakan kepada bang Hatta, dapat diimplementasikan dan diwujudnyatakan untuk Tuhan, bangsa dan almamater.

Salam Ganesha!
Hidup Kaum Muda Indonesia!
Hidup Jiwa Muda!
Hidup ITB!

Assalamualaikum wr. wb.


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>