Zaid Sang Perdana


Majunya Tim Proggie dan Leadership berwawasan Kebangsaan
2007/11/11, 05:42:13
Filed under: IA-ITB, ITB, Pemilu, Politics, Science

Pada tanggal 7 November 2007 yang lalu, Ketua masa depan IA ITB, Zaid Perdana Nasution, mewakili Tim ITB Progresif mengikuti hearing dan debat kandidat Ketua IA ITB di Cilegon, Banten. Dalam hearing ini hadir kandidat Betti, kandidat Hatta yang diwakili oleh Amir Sambodo, kandidat Boyke, dan kandidat Triharyo. Presentasi kampanye Zaid adalah “Majunya Tim Proggie dan Leadership berwawasan Kebangsaan”. Presentasi kampanye ini berisi materi tentang bagaimana rancang bangun kemudaan dan visi dasar dari IA ITB yang ingin dibangun dalam semangat dan jiwa muda untuk memperbaharui keadaan IA ITB, ITB sendiri, dan akhirnya Indonesia. Berikut petikannya orasi kampanye Zaid….

Judul

Assalamualaikum wr.wb.
Perkenalkan nama saya Zaid Perdana Nasution saya alumni Teknik Lingkungan angkatan’96 dari Medan. Saya disini mewakili Tim ITB Progressif . Tim ITB Progressif merupakan kumpulan dari teman-teman alumni ITB angkatan 1993-2003 dari berbagai jurusan dan angkatan yang selama ini merasa resah dan gelisah. Resah dan gelisah karena selama ini ikatan alumni ITB dipimpin oleh orang-orang besar, dipimpin oleh pejabat namun mengapa kita yang masih muda-muda, kita yang baru lulus setahun, dua tahun dari kampus sulit sekali untuk kita menemukan tempat dimana kita bisa merasa nyaman untuk beraktivitas dalam kegiatan alumni ITB. Jadi kita dan beberapa teman-teman mencoba. Beberapa di antaranya yang sudah berpengalaman beraktivitas dalam kegiatan tersebut merasa bahwa ada potensi yang cukup besar yang kita miliki. Kita memutuskan bahwa bila kita selama ini memberikan suara kepada abang-abang kita, sementara kita juga memiliki jaringan, kita juga punya resource, kita juga punya kemampuan.

cileg002.jpg

Anggota Tim Progresif ini di antaranya adalah direktur dari suatu LSM, Inisiatif yang memiliki cukup pengalaman di seluruh Indonesia, juga angkatan ’96 dan salah satunya adalah merupakan seorang presiden dari suatu institute of complexity, research of sosial complexity, studi kompleksitas sosial yang belum pernah ada di Indonesia yang berada di Bandung, Bandung Fe Institute. Dan yang lain di antaranya juga merupakan presiden direktur dari perusahaan general dipulau Jawa dan Kalimantan. Dan ini merupakan kombinasi dari teman-teman muda yang ada sekarang. Dan kita merasa bahwa ketika kita maju sebagai tim kita akan mendapatkan apa yang kita harapkan. Kita tim progressif bukan berarti mengesampingkan rekan-rekan lain yang lebih senior. Artinya dengan adanya kami, teman-teman yang lebih senior akan lebih mudah mengontrol kita, dan lebih mudah untuk membawa organisasi dan membimbing kita ke arah yang lebih baik.

Alasan kami maju adalah kami ingin mengkonstruksi masa depan kami sebagai alumni muda. Di mana kami tidak menginginkan ketika kami, ketika kita dua puluh tahun ke depan melihat Indonesia masih seperti sekarang ini korupsi semakin tinggi, biaya kuliah semakin mahal, biaya kesehatan juga dan semua terkapitalisasi terkomersialisasi sedemikian rupa. Jadi kami ingin masa depan kami lebih baik untuk itu izinkan kami untuk memimpin IA ITB agar kebersamaan kita kedepan bisa menjadi lebih baik.

Kemudian ada masalah dalam kealumnian kita. Ketika ke belakang dipegang oleh pejabat menteri tapi periode kemarin pemilihannya hanya diikuiti dari 2500 pemilih. Hanya 6% dari empat puluh ribu pemilih. Dan mayoritas pemilih adalah teman-teman kandidat dan kita yang muda-muda lebih banyak adalah yang merupakan aktifis kampus dan beberapa yang bukan aktivis kampus kepedulian, awareness-nya rendah sekali. Jadi kita melihat suatu masalah adalah adanya kemanfaatan yang cukup rendah. Dan lebih parah lagi ketika kami medengar dalam technical meeting sebelum pencoblosan ternyata pengurus pusat tidak memiliki database! Sebuah hal yang sangat sederhana dengan orang-orang yang sangat luar biasa, hal seperti itu saja tidak dapat diselesaikan. Kita khawatir kesempatan ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang pada akhirnya mengatasnamakan alumni ITB yang lain. Dan kita tidak mau itu terjadi…

Alumni ITB bisa kita lihat dari dua gambar. Yang pertama adalah alumni ITB dengan segmentasi yang bermacam-macam yang saling berinteaksi tanpa adanya suatu payung kebersamaan. Dan yang kedua adalah di mana interaksi yang terjadi antara alumni ITB dengan segala potensi yang ada oleh ikatan alumni ITB menjadi terpusat.

Kita tidak menginginkan program –program yang terinisiasi secara sentralistik oleh pengurus. Kita melihat banyaknya alumni ITB dengan kapabilitas yang besar dengan minat yang bermacam-macam ada yang seniman, ada yang filosofis, ada yang budayawan, ada yang ekonom, ada yang senang di politik, ada yang senang di musik dan dengannya kita mengharapkan segala macam potensi kreatif yang ada dalam alumni ini dapat bergerak bersama dan kemudian membesar secara bottom-up. Dan pada akhirnya kita menyebutnya suatu proses partisipasi.

Kita tidak berasumsi bahwa kita lebih tahu apa yang diinginkan oleh pemilih. Alumni ITB dengan segala kebersamaan dan kebesarannya sulit untuk dimengerti apa dan seberapa banyak yang menjadi kebutuhannya. Namun ketika kita berkumpul dalam kelompok-kelompok menjadi satu dengan segala bentuk kebersamaannya hal tersebut akan terakomodasi dengan baik.

cileg003.jpg

Inilah pola yang kita bentuk selama ini…

[menunjuk slide]

Terdapat agen-agen yang terbentuk melalui pola pertemanan dan dalam suatu pola interaksi dan kita mengharapkan dari sini akan muncul program-program dari berbagai macam kelompok tersebut yang kemudian akan mendukung kita dengan segala macam kepentingan mereka. Dan dengan pertemanan yang lebih dekat maka akan lebih mudah mengakomodirnya.

Ini adalah kegiatan alumni ITB sebelumnya…

[menunjuk slide]

yang terpisah-pisah dan sungguh menyedihkan. Sebesar itu alumni ITB namun kegiatan yang dilakukannya sungguh menyedihkan. Dengan kebesarannya yang kita miliki…….

cileg004.jpg

Ini yang akan kita lakukan…

[menunjuk slide]

alumni-alumni di Indonesia , alumni-alumni ITB. Kita bisa melihat adanya kebersamaan sebagai alumni ITB dan Indonesia yang harus saling berhubungan dan berinteraksi dan sebagai suatu kesatuan dan berkoordinasi di dalamnya.

Yang terakhir, memilih Zaid berarti menunjukkan kepada dunia, kepada bangsa, bahwa yang muda dengan segala kebersamaannya bisa menjadi pemimpin. Kita bisa memulai tren kepemimpinan baru di sini sehingga perubahan yang mendasar dapat segera diwujudkan. Kami tidak yakin jika ikatan alumni ITB dipegang bukan oleh generasi muda akan memberikan statement yang sangat kritis terhadap pemerintah. Namun jika kita dipimpin oleh yang muda hal itu sangat mungkin. Dengan bantuan abang-abang dan kakak-kakak senior yang mungkin sudah melihat berbagai kesulitan dan dengan berbagai masalah seperti mahasiswa sekarang yang semakin tidak mandiri, semakin cengeng dan segala macam masalah lainnya dapat kita selesaikan bersama-sama. Kemudian hal ini akan mendorong tren aktivitas anak muda baik di tingkat pusat maupun daerah. Yang dahulu mungkin kurang alumni mudanya, maka dengan kami maju, mudah-mudahan kami menang, itu akan menginduksi alumni ITB di tempat dan di daerahnya masing-masing.

[applause]


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>