Zaid Sang Perdana


Alumni bicara, Kandidat Mendengar
2007/11/11, 05:43:20
Filed under: IA-ITB, Pemilu, Politics, Politik, Publik

Ikatan Alumni ITB Jakarta mengadakan forum debat/hearing yang mengundang seluruh kandidat untuk secara langsung menjawab semua pertanyaan dari alumni yang memadati ruang Pendopo, Dept. Pekerjaan Umum Jakarta pada tanggal 8 November 2007 yang lalu. Acara yang sangat hiruk-pikuk ini dihadiri oleh keseluruhan kandidat, dan Alumni ITB Progresif diwakili oleh Tim Materi Diding. Diberikan dua sesi pertanyaan dari alumni yang hadir secara bergantian dan kandidat di akhir acara memberikan sambutan atau respon dari pendapat/pertanyaan yang muncul.

21.jpg

Sesi pertama diwarnai dengan pertanyaan seputar peran IA ITB dalam mendorong aktivitas enterpreneurship alumni ITB, seputar isu energi dan iklim, dan seputar program kerja IA ITB yang direncanakan. Berikut petikan respon Diding atas semua komentar dan pendapat yang diungkapkan…

20.jpg18.jpg19.jpg

Assalamualaikum wr. wb.
Sebelumnya saya perkenalkkan diri, nama saya Diding Sakri dari alumni angkatan ’96. Saya disini bukan mewakili Zaid. Karena komitmen kami sejak awal adalah kami maju secara kolektif. Kami menamakan diri sebagai tim alumni muda ITB Progressif

[applause]

terima kasih. Yang merasa dirinya berjiwa muda dan progressif silakan tepuk tangan

[applause]

16.jpg11.jpg12.jpg

Tentu saja perlu saya sampaikan disini bahwa ketidakhadiran Zaid, baik dalam forum ini maupun dalam forum debat atau forum hearing yang lain semata-mata bahwa bukan dia tidak menghormati forum atau apa, akan tetapi memang komitmen kamilah melakukan suatu jadwal bahwa kami akan melakukannya bergantian seperti ini…

[applause]

Sebelum lebih lanjut saya menjawab pertanyaan tadi, saya ingin bertanya kepada rekan-rekan alumni yang hadir disini, siapa yang pernah membaca buku laporan pertanggungjawaban pengurusan ikatan alumni periode sekarang? Ada yang pernah baca tidak?

…..satu…dua….tiga…empat…. [menghitung]

…mungkin hanya empat dari sekitar dua ratus orang yang hadir di tempat ini. Kenapa saya bertanya demikian, saya hanya ingin mengingatkan kepada rekan-rekan semua. Tolong bandingkan apa yang dipertangggungjawabkan dalam buku tersebut dengan apa yang direncanakan pada tahun 2002 yang lampau. Soal bisnis misalnya. Ada istilah bahwa akan memajukan enterpreneur muda dan seterusnya dan dahulu juga sama ada yang namanya bussiness gathering. Rekan-rekan yang menyebutkan istilah tersebut dapat menyatakan bahwa apa yang dahulu direncanakan sebelumnya sampai sekarang tidak pernah terjadi. Itu yang menjadi masalah dalam kepengurusan kita. Apa yang ada dalam rencana belum tentu ada dalam realisasi. Apa yang ada dalam konsep belum tentu dapat diimplementasikan. Itu persoalan!

Satu hal lagi, saya ingin mengajak teman-teman bukan hanya berfikir secara instan. Tapi coba evaluasi karena ini tanggung jawab kita semua. Bukan saya menyalahkan pengurus, namun ini merupakan tanggungjawab kita semua.

Sekarang saya ingin mencoba menjawab pertanyaan ketiga mengenai masalah minyak dan iklim tadi. Kami yakin bahwa konsep-konsep yang tadi disampaikan oleh bang Hatta misalnya, itu merupakan konsep-konsep yang sangat bagus. Dan apa yang akan kami lakukan nantinya adalah kami selaku pengurus alumni ITB dari tim progresif muda ITB akan memastikan bahwa apa yang menjadi konsep-konsep dari para senior kami akan dijalankan bukan hanya sebagai retorika. Itu yang akan kami lakukan!

[applause]

Jadi, ketika kemarin kami bertemu dengan bang Hatta kami mengatakan bahwa siapapun yang menjadi pengurus dalam periode 2007-2012 mestinya bila kita berkomitmen semua konsep itu akan bisa dijalankan oleh siapa pun, tidak hanya oleh pengurus tersebut!

Pertanyaan nomor dua mengenai program-program tadi. Soal program ke-ITB-an, program-program ikatan alumni ITB. Saya secara pribadi bersama dengan teman-teman dari tim muda Progressif, merasa sangat terharu dan terusik. Ketika kondisi di 30 juta lebih masyarakat Indonesia berada dalam kondisi pengangguran dan kemiskinan, ternyata alumni ITB hanya bicara kepada alumninya sendiri. Itu yang menjadi persoalan.

[applause]

Kita seharusnya dapat berfikir lebih luas. Seperti tadi yang dikatakan bang Tito , ITB terlalu kecil untuk di kotak-kotakkan. Tetapi menurut saya kita juga terlalu besar hanya untuk memberikan lapangan pekerjaan hanya kepada para alumninya. Berikanlah pekerjaan kepada seluruh alumni dan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

[applause]

Bagi saya bekal yang dimiliki oleh alumni ITB selama kuliah di ITB sudah lebih dari cukup untuk dia bisa hidup lebih mandiri. Justru saya sangat salut dengan apa yang telah dialami oleh rekan Endang tadi bahwa dia bisa menapaki bisnisnya tidak harus kolutif terhadap seniornya. Biarlah senior-senior kita digantungi oleh rekan-rekan dari luar ITB karena mereka yang lebih membutuhkan dari pada kita sendiri. Itu menurut kami.

[applause]

Kita yang lebih siap seharusnya dapat lebih mampu berkompetisi bukan hanya menggantung pada rekan kita yang lebih senior.

[applause]

Yang terakhir, dari bang Kemal Taruk. Saya ingin mengatakan bahwa melalui dua lagu yang telah disampaikan oleh kedua rekan kita tadi itu bukan ironi tetapi itu adalah fakta, itu kenyataan di lapangan. Dan ternyata cukup sulit untuk kita menerima bahwa itu adalah kenyataan.

[applause]

Terakhir, saya ingin berpesan kepada kita semua disini bahwa jangan sampai nanti dalam pengurusan periode berikutnya jangan sampai tertulis program misalnya program menjenguk rekan alumni yang ada di penjara, karena itu yang tercatat dalam laporan pertanggungjawaban periode kemarin.

[applause]

Terima kasih. Hidup ITB!

 

Sesi kedua diwarnai dengan pertanyaan seputar apa yang akan dilakukan perihal pembangunan asrama bagi mahasiswa, komitmen jika tidak terpilih menjadi ketua, seputar masalah alumni ITB yang mencari pekerjaan, dan tentang kontribusi IA ITB ke daerah-daerah. Berikut petikan respon Diding atas semua komentar dan pendapat yang diungkapkan…

7.jpg 8.jpg9.jpg10.jpg

Assalamualaikum wr.wb.
Mulai dari yang terakhir, nomor empat mengenai asrama. Tentu saja hal tersebut harus diutamakan. Kerana di ITB masih banyak mahasiswa yang boleh dikatakan tidak mampu ekonominya. Sehingga pernah suatu ketika, ketika saya mengisi acara suatu hiburan ada beberapa mahasiswa itu yang menanyakan kepada kami bagaimana kebutuhan-kebutuhan mereka mengenai survey dapat terpenuhi. Tentu itu harus diutamakan. Tetapi saya fikir dalam strateginya kami tidak akan menempuh seperti apa yang tadi disampaikan oleh bang Boyke yaitu meminta hanya kepada alumni-alumni yang kaya saja. Karena itu tidak bagus.

Menurut saya sebagai sebuah paguyuban hanya bertumpu pada satu atau dua orang yang kita anggap sebagai elit dari segi kekuasaan maupun dari segi kekayaan, padahal yang dibutuhkan disini adalah kebersamaan. Jadi yang akan kami lakukan adalah kami akan melakukan road show, malam temu alumni atau apapun istilahnya, yang pada dasarnya adalah lebih baik dari setiap orang tersebut 50 ribu rupiah tetapi ada empat puluh ribu orang yang menyumbang, daripada hanya satu orang menyumbangkan satu milyar. Itu tidak bagus untuk sebuah paguyuban! Itu untuk masalah program-program alumni.

Kemudian yang kedua, masalah komitmen ketika kami tidak terplih. Saya pikir yang paling tepat masalah komitmen ini adalah dipertanyakan kepada keempat kandidat yang lain. Karena saya tidak tahu apakah empat kandidat yang lebih senior ini mau menjadi pengurus ketika Zaid yang terpilih. Karena kami akan menjadikan mereka-mereka ini menjadi kepala divisi. Karena kami yakin kami akan menang.

[applause]

Jadi coba tanyakan kepada keempat kandidat yang lebih senior ini. Apakah mereka masih mau merealisasikan apa yang menjadi programnya ketika kami yang menjadi presidennya.

[applause]

1.jpg2.jpg4.jpg5.jpg6.jpg141.jpg

Kemudian, mengenai pekerjaan. Soal bargaining position dari para profesional kita dibandingkan dengan para ekspatriat dari luar negeri. Yang ingin saya himbau kepada rekan-rekan yang lulus dariITB adalah jangan hanya mencari kerja kepada terutamanya pihak-pihak asing. Seperti yang dikatakan oleh Bang Boyke tadi kita usahakan untuk dapat lebih inovatif untuk mencari lapangan kerja sendiri. Saya cukup bangga dengan diri saya sendiri, karena ketika tahun 2000 ketika saya lulus sampai sekarang ini saya tidak pernah melamar kerja kepada orang lain. Saya buat lapangan pekerjaan sendiri.

[applause]

Yang terakhir, bagaimana kita bisa berkontribusi kepada daerah. Soal apa yang pernah dilakukan oleh IA daerah saya tidak tahu, karena terus terang saya tidak pernah aktif. Tetapi apa yang saya pikirkan adalah ke depan. Saya, misalnya adalah pribadi yang aktif dalam dunia riset perbaikan kebijakan publik. Saya mempunyai konsep bahwa ada 449 kabupaten/kota di Indonesia. Bayangkan dari 40 ribu orang alumni ITB di Indonesia, kalau ada satu atau dua orang saja yang mau memperbaiki kabupaten/kota tersebut, maka saya pikir itu akan beres. Itu yang tidak pernah kita lakukan.

Saya mempunyai bukti. Kalau rekan-rekan hari selasa dan rabu kemarin membaca dalam komppas misalnya. Bukan untuk maksud untuk menyombongkan diri tetapi riset kebijakan advokasi yang kami lakukan berhasil memperbaiki kebijakan sektor lingkungan disebuah kabupaten di Jawa Barat. Jadi itu yang harus dilakukan oleh kita semua.

Terima kasih. Wassalamu’ alaikum wr. wb.


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>