Assalamualaikum wr. wb.
Saudara-saudara kami alumni ITB yang terhormat,
Adalah mudah bagi kita semua untuk menerima kekalahan dari sebuah kompetisi yang adil, dalam pengertian in the same level playing field, yang berdasarkan pada kompetensi dan kapabilitas, yang berdasarkan pada sebuah sistem kompetisi yang jujur aturan dan jelas segala rule of the game-nya dan asas kesetaraan.
Harus kami akui, bahwa sangat berat bagi kami untuk menerima kekalahan, bukan karena kami tidak satria, dan bukan pula oleh karena tidak memiliki kelapangan dada. Dengan landasan kejujuran, kami harus mengakui rasa kekecawaan kami atas turnamen dan kontes yang baru saja kita mainkan.
Satu hal yang jelas adalah bahwa ketidaksamaan usia bukanlah suatu hal yang membuat kami kalah dalam kompetisi ini. Ketidaksamaan modal dan uang yang tergulirkan selama kampanye mungkin merupakan hal utama yang menyebabkan kita kalah. Namun kita juga sadar, bukankah itu pula yang selalu membuat negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia juga selalu kalah dalam kompetisi ekonomi, politik, sosial, budaya dan banyak sektor lain di kancah internasional?
Kekalahan kami di sini…. atau mungkin saya jadi lebih suka mengatakan kekalahan kita di sini harus menjadi refleksi bahwa modal semangat, kejujuran, ketulusan, dan hati nurani atau konsep yang kuat saja terkadang tak cukup untuk memenangkan persaingan di dunia kita yang serba diatur oleh uang ini. Uang dapat mengaburkan nilai-nilai ideologis! Kondisi ini diperparah dengan satu kondisi lain, yaitu kecintaan akan uang yang materialistik. Yang terakhir ini melahirkan kebiasaan korupsi yang tinggi.
Korupsi merupakan sebuah penyakit bangsa secara aktual di negeri kita. Ketika leadership kultural negeri kita didominasi oleh ITB, kita juga menyaksikan banyak abang-abang dan kakak-kakak kita tak henti-hentinya melakukan hal serupa ini. Ini sungguh memilukan hati kami yang berdiri berlandaskan nilai kejujuran dan akuntabilitas yang kita usung di Tim Alumni Muda ITB Progresif.
Korupsi atas senilai uang, menjadi bahan bakar untuk transformasi korupsi bentuk lain, mulai dari korupsi waktu, korupsi aturan dan hukum, bahkan yang terparah korupsi nilai-nilai etika dan moral. Hal-hal materialistik memberi peluang munculnya kedengkian. Selama kampanye banyak sekali kita mendengar bentuk-bentuk kampanye yang negatif. Selama berjuang di tim alumni ITB progresif, kita bahkan mendengar tentang upaya klaim yang bagi kami sangat sadistik terhadap gerakan dan aktivitas kemahasiswaan, bahwa si X, si Y, si Z, adalah (dalam tanda petik) pemimpin gerakan mahasiswa yang mendukung kandidat anu. Banyak hal kemudian diklaim sebagai pekerjaan pribadi padahal merupakan pekerjaan kolektif. Kebersamaan, gotong royong, perasaan bersama, direduksi menjadi sebuah klaim personal.
Rekan-rekan kami alumni ITB,
Kami maju dengan semangat muda yang bersih dan progresif dengan konsep yang jelas memperbaiki organisasi kita, IA ITB, kampus kita, dan masyarakat kita. Banyak hal tentu yang dapat diambil sebagai pelajaran oleh kandidat-kandidat lain dan para pendukungnya ketika kami maju sebagai kandidat paling muda dalam sejarah berdirinya IA ITB – sama seperti kami juga banyak belajar di sini.
Namun kejujuran, ketulusan, kepercayaan diri, dan sifat kepemimpinan dan kolektivitas agaknya memang terlalu mahal harganya. Kita mesti menjaga ini semua, rekan-rekan! Kita mesti menjaga hal-hal ini dan semangat muda yang menyertainya agar kita tidak pernah pundung untuk tetap berjuang dan ber-inovasi demi kemashlahatan bersama. Apa yang sudah kita alami beberapa minggu belakangan ini mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tidak pernah berhenti kepada hati nurani dan kemurnian gerakan.
Kita tak mau ITB itu menjadi berstatus world class university tapi menjadi lembaga kaderisasi koruptor. Kita tidak mau berbagi bersama dengan mereka yang merongrong bumi pertiwi. Kita tidak mau membawa kebersamaan kita sekadar untuk memajukan sesosok kultus inidividu! Kita tidak mau IA ITB hanya akan dijadikan tempat untuk tempat nangkring tenaga kerja profesional murah yang miskin inovasi. Yang kita mau adalah inharmonia progressio, kebersamaan yang nyata dan selaras demi kemajuan kampus kita dan bangsa kita tercinta.
Dengan semangat ini, kami mengucapkan selamat kepada rekan, kawan, senior, kakak kami, bang Hatta, atas keberhasilannya unggul dalam pemilihan ketua IA ITB 2007-2011 ini. Semoga amanah yang dipercayakan kepada bang Hatta, dapat diimplementasikan dan diwujudnyatakan untuk Tuhan, bangsa dan almamater.
Salam Ganesha!
Hidup Kaum Muda Indonesia!
Hidup Jiwa Muda!
Hidup ITB!
Assalamualaikum wr. wb.
Tim Proggie telah menerbitkan buku yang berisi segala deskripsi dan argumentasi serta paparan program kerja Ikatan Alumni ITB 2007-2011 yang akan dilaksanakan jika kita memenangkan pemilihan Ketua IA ITB 2007-2011 ini. Rekan-rekan alumni dapat mengaksesnya di alamat:
atau dapat mendownload versi PDF-nya di:
http://proker.files.wordpress.com/2007/11/total.pdf
Salam hangat dari Tim Proggie! Mari menangkan pemilihan ini!
Ikatan Alumni ITB Jakarta mengadakan forum debat/hearing yang mengundang seluruh kandidat untuk secara langsung menjawab semua pertanyaan dari alumni yang memadati ruang Pendopo, Dept. Pekerjaan Umum Jakarta pada tanggal 8 November 2007 yang lalu. Acara yang sangat hiruk-pikuk ini dihadiri oleh keseluruhan kandidat, dan Alumni ITB Progresif diwakili oleh Tim Materi Diding. Diberikan dua sesi pertanyaan dari alumni yang hadir secara bergantian dan kandidat di akhir acara memberikan sambutan atau respon dari pendapat/pertanyaan yang muncul.
Sesi pertama diwarnai dengan pertanyaan seputar peran IA ITB dalam mendorong aktivitas enterpreneurship alumni ITB, seputar isu energi dan iklim, dan seputar program kerja IA ITB yang direncanakan. Berikut petikan respon Diding atas semua komentar dan pendapat yang diungkapkan…
Assalamualaikum wr. wb.
Sebelumnya saya perkenalkkan diri, nama saya Diding Sakri dari alumni angkatan ’96. Saya disini bukan mewakili Zaid. Karena komitmen kami sejak awal adalah kami maju secara kolektif. Kami menamakan diri sebagai tim alumni muda ITB Progressif
[applause]
terima kasih. Yang merasa dirinya berjiwa muda dan progressif silakan tepuk tangan
[applause]
Tentu saja perlu saya sampaikan disini bahwa ketidakhadiran Zaid, baik dalam forum ini maupun dalam forum debat atau forum hearing yang lain semata-mata bahwa bukan dia tidak menghormati forum atau apa, akan tetapi memang komitmen kamilah melakukan suatu jadwal bahwa kami akan melakukannya bergantian seperti ini…
[applause]
Sebelum lebih lanjut saya menjawab pertanyaan tadi, saya ingin bertanya kepada rekan-rekan alumni yang hadir disini, siapa yang pernah membaca buku laporan pertanggungjawaban pengurusan ikatan alumni periode sekarang? Ada yang pernah baca tidak?
…..satu…dua….tiga…empat…. [menghitung]
…mungkin hanya empat dari sekitar dua ratus orang yang hadir di tempat ini. Kenapa saya bertanya demikian, saya hanya ingin mengingatkan kepada rekan-rekan semua. Tolong bandingkan apa yang dipertangggungjawabkan dalam buku tersebut dengan apa yang direncanakan pada tahun 2002 yang lampau. Soal bisnis misalnya. Ada istilah bahwa akan memajukan enterpreneur muda dan seterusnya dan dahulu juga sama ada yang namanya bussiness gathering. Rekan-rekan yang menyebutkan istilah tersebut dapat menyatakan bahwa apa yang dahulu direncanakan sebelumnya sampai sekarang tidak pernah terjadi. Itu yang menjadi masalah dalam kepengurusan kita. Apa yang ada dalam rencana belum tentu ada dalam realisasi. Apa yang ada dalam konsep belum tentu dapat diimplementasikan. Itu persoalan!
Satu hal lagi, saya ingin mengajak teman-teman bukan hanya berfikir secara instan. Tapi coba evaluasi karena ini tanggung jawab kita semua. Bukan saya menyalahkan pengurus, namun ini merupakan tanggungjawab kita semua.
Sekarang saya ingin mencoba menjawab pertanyaan ketiga mengenai masalah minyak dan iklim tadi. Kami yakin bahwa konsep-konsep yang tadi disampaikan oleh bang Hatta misalnya, itu merupakan konsep-konsep yang sangat bagus. Dan apa yang akan kami lakukan nantinya adalah kami selaku pengurus alumni ITB dari tim progresif muda ITB akan memastikan bahwa apa yang menjadi konsep-konsep dari para senior kami akan dijalankan bukan hanya sebagai retorika. Itu yang akan kami lakukan!
[applause]
Jadi, ketika kemarin kami bertemu dengan bang Hatta kami mengatakan bahwa siapapun yang menjadi pengurus dalam periode 2007-2012 mestinya bila kita berkomitmen semua konsep itu akan bisa dijalankan oleh siapa pun, tidak hanya oleh pengurus tersebut!
Pertanyaan nomor dua mengenai program-program tadi. Soal program ke-ITB-an, program-program ikatan alumni ITB. Saya secara pribadi bersama dengan teman-teman dari tim muda Progressif, merasa sangat terharu dan terusik. Ketika kondisi di 30 juta lebih masyarakat Indonesia berada dalam kondisi pengangguran dan kemiskinan, ternyata alumni ITB hanya bicara kepada alumninya sendiri. Itu yang menjadi persoalan.
[applause]
Kita seharusnya dapat berfikir lebih luas. Seperti tadi yang dikatakan bang Tito , ITB terlalu kecil untuk di kotak-kotakkan. Tetapi menurut saya kita juga terlalu besar hanya untuk memberikan lapangan pekerjaan hanya kepada para alumninya. Berikanlah pekerjaan kepada seluruh alumni dan kepada seluruh masyarakat Indonesia.
[applause]
Bagi saya bekal yang dimiliki oleh alumni ITB selama kuliah di ITB sudah lebih dari cukup untuk dia bisa hidup lebih mandiri. Justru saya sangat salut dengan apa yang telah dialami oleh rekan Endang tadi bahwa dia bisa menapaki bisnisnya tidak harus kolutif terhadap seniornya. Biarlah senior-senior kita digantungi oleh rekan-rekan dari luar ITB karena mereka yang lebih membutuhkan dari pada kita sendiri. Itu menurut kami.
[applause]
Kita yang lebih siap seharusnya dapat lebih mampu berkompetisi bukan hanya menggantung pada rekan kita yang lebih senior.
[applause]
Yang terakhir, dari bang Kemal Taruk. Saya ingin mengatakan bahwa melalui dua lagu yang telah disampaikan oleh kedua rekan kita tadi itu bukan ironi tetapi itu adalah fakta, itu kenyataan di lapangan. Dan ternyata cukup sulit untuk kita menerima bahwa itu adalah kenyataan.
[applause]
Terakhir, saya ingin berpesan kepada kita semua disini bahwa jangan sampai nanti dalam pengurusan periode berikutnya jangan sampai tertulis program misalnya program menjenguk rekan alumni yang ada di penjara, karena itu yang tercatat dalam laporan pertanggungjawaban periode kemarin.
[applause]
Terima kasih. Hidup ITB!
Sesi kedua diwarnai dengan pertanyaan seputar apa yang akan dilakukan perihal pembangunan asrama bagi mahasiswa, komitmen jika tidak terpilih menjadi ketua, seputar masalah alumni ITB yang mencari pekerjaan, dan tentang kontribusi IA ITB ke daerah-daerah. Berikut petikan respon Diding atas semua komentar dan pendapat yang diungkapkan…
Assalamualaikum wr.wb.
Mulai dari yang terakhir, nomor empat mengenai asrama. Tentu saja hal tersebut harus diutamakan. Kerana di ITB masih banyak mahasiswa yang boleh dikatakan tidak mampu ekonominya. Sehingga pernah suatu ketika, ketika saya mengisi acara suatu hiburan ada beberapa mahasiswa itu yang menanyakan kepada kami bagaimana kebutuhan-kebutuhan mereka mengenai survey dapat terpenuhi. Tentu itu harus diutamakan. Tetapi saya fikir dalam strateginya kami tidak akan menempuh seperti apa yang tadi disampaikan oleh bang Boyke yaitu meminta hanya kepada alumni-alumni yang kaya saja. Karena itu tidak bagus.
Menurut saya sebagai sebuah paguyuban hanya bertumpu pada satu atau dua orang yang kita anggap sebagai elit dari segi kekuasaan maupun dari segi kekayaan, padahal yang dibutuhkan disini adalah kebersamaan. Jadi yang akan kami lakukan adalah kami akan melakukan road show, malam temu alumni atau apapun istilahnya, yang pada dasarnya adalah lebih baik dari setiap orang tersebut 50 ribu rupiah tetapi ada empat puluh ribu orang yang menyumbang, daripada hanya satu orang menyumbangkan satu milyar. Itu tidak bagus untuk sebuah paguyuban! Itu untuk masalah program-program alumni.
Kemudian yang kedua, masalah komitmen ketika kami tidak terplih. Saya pikir yang paling tepat masalah komitmen ini adalah dipertanyakan kepada keempat kandidat yang lain. Karena saya tidak tahu apakah empat kandidat yang lebih senior ini mau menjadi pengurus ketika Zaid yang terpilih. Karena kami akan menjadikan mereka-mereka ini menjadi kepala divisi. Karena kami yakin kami akan menang.
[applause]
Jadi coba tanyakan kepada keempat kandidat yang lebih senior ini. Apakah mereka masih mau merealisasikan apa yang menjadi programnya ketika kami yang menjadi presidennya.
[applause]
Kemudian, mengenai pekerjaan. Soal bargaining position dari para profesional kita dibandingkan dengan para ekspatriat dari luar negeri. Yang ingin saya himbau kepada rekan-rekan yang lulus dariITB adalah jangan hanya mencari kerja kepada terutamanya pihak-pihak asing. Seperti yang dikatakan oleh Bang Boyke tadi kita usahakan untuk dapat lebih inovatif untuk mencari lapangan kerja sendiri. Saya cukup bangga dengan diri saya sendiri, karena ketika tahun 2000 ketika saya lulus sampai sekarang ini saya tidak pernah melamar kerja kepada orang lain. Saya buat lapangan pekerjaan sendiri.
[applause]
Yang terakhir, bagaimana kita bisa berkontribusi kepada daerah. Soal apa yang pernah dilakukan oleh IA daerah saya tidak tahu, karena terus terang saya tidak pernah aktif. Tetapi apa yang saya pikirkan adalah ke depan. Saya, misalnya adalah pribadi yang aktif dalam dunia riset perbaikan kebijakan publik. Saya mempunyai konsep bahwa ada 449 kabupaten/kota di Indonesia. Bayangkan dari 40 ribu orang alumni ITB di Indonesia, kalau ada satu atau dua orang saja yang mau memperbaiki kabupaten/kota tersebut, maka saya pikir itu akan beres. Itu yang tidak pernah kita lakukan.
Saya mempunyai bukti. Kalau rekan-rekan hari selasa dan rabu kemarin membaca dalam komppas misalnya. Bukan untuk maksud untuk menyombongkan diri tetapi riset kebijakan advokasi yang kami lakukan berhasil memperbaiki kebijakan sektor lingkungan disebuah kabupaten di Jawa Barat. Jadi itu yang harus dilakukan oleh kita semua.
Terima kasih. Wassalamu’ alaikum wr. wb.
Filed under: Uncategorized
Zaid Perdana Nasution, jurubicara Alumni ITB Progresif diwawancara oleh Lia Mahariza, reporter STV Bandung. Dalam diskusi berdurasi lebih dari 12 menit ini, Zaid menerangkan tentang kondisi Ikatan Alumni ITB di tengah-tengah para alumni, kampus ITB, dan masyarakat Indonesia secara umum. Wawancara ini disiarkan oleh STV secara lokal di kawasan Bandung pada tanggal 9 November 2007 pukul 18.00 dalam acara berita Daily Report. Zaid juga menerangkan beban yang dibawa oleh kelompok muda bangsa agar memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam mengambil sikap sebagai pemimpin dengan embanan tugas dan tanggung jawab terhadap transformasi sosial sedemikian sehingga perbaikan kultural dan struktural terjadi di dalam masyarakat Indonesia.
Pada tanggal 7 November 2007 yang lalu, Ketua masa depan IA ITB, Zaid Perdana Nasution, mewakili Tim ITB Progresif mengikuti hearing dan debat kandidat Ketua IA ITB di Cilegon, Banten. Dalam hearing ini hadir kandidat Betti, kandidat Hatta yang diwakili oleh Amir Sambodo, kandidat Boyke, dan kandidat Triharyo. Presentasi kampanye Zaid adalah “Majunya Tim Proggie dan Leadership berwawasan Kebangsaan”. Presentasi kampanye ini berisi materi tentang bagaimana rancang bangun kemudaan dan visi dasar dari IA ITB yang ingin dibangun dalam semangat dan jiwa muda untuk memperbaharui keadaan IA ITB, ITB sendiri, dan akhirnya Indonesia. Berikut petikannya orasi kampanye Zaid….
Assalamualaikum wr.wb.
Perkenalkan nama saya Zaid Perdana Nasution saya alumni Teknik Lingkungan angkatan’96 dari Medan. Saya disini mewakili Tim ITB Progressif . Tim ITB Progressif merupakan kumpulan dari teman-teman alumni ITB angkatan 1993-2003 dari berbagai jurusan dan angkatan yang selama ini merasa resah dan gelisah. Resah dan gelisah karena selama ini ikatan alumni ITB dipimpin oleh orang-orang besar, dipimpin oleh pejabat namun mengapa kita yang masih muda-muda, kita yang baru lulus setahun, dua tahun dari kampus sulit sekali untuk kita menemukan tempat dimana kita bisa merasa nyaman untuk beraktivitas dalam kegiatan alumni ITB. Jadi kita dan beberapa teman-teman mencoba. Beberapa di antaranya yang sudah berpengalaman beraktivitas dalam kegiatan tersebut merasa bahwa ada potensi yang cukup besar yang kita miliki. Kita memutuskan bahwa bila kita selama ini memberikan suara kepada abang-abang kita, sementara kita juga memiliki jaringan, kita juga punya resource, kita juga punya kemampuan.
Anggota Tim Progresif ini di antaranya adalah direktur dari suatu LSM, Inisiatif yang memiliki cukup pengalaman di seluruh Indonesia, juga angkatan ’96 dan salah satunya adalah merupakan seorang presiden dari suatu institute of complexity, research of sosial complexity, studi kompleksitas sosial yang belum pernah ada di Indonesia yang berada di Bandung, Bandung Fe Institute. Dan yang lain di antaranya juga merupakan presiden direktur dari perusahaan general dipulau Jawa dan Kalimantan. Dan ini merupakan kombinasi dari teman-teman muda yang ada sekarang. Dan kita merasa bahwa ketika kita maju sebagai tim kita akan mendapatkan apa yang kita harapkan. Kita tim progressif bukan berarti mengesampingkan rekan-rekan lain yang lebih senior. Artinya dengan adanya kami, teman-teman yang lebih senior akan lebih mudah mengontrol kita, dan lebih mudah untuk membawa organisasi dan membimbing kita ke arah yang lebih baik.
Alasan kami maju adalah kami ingin mengkonstruksi masa depan kami sebagai alumni muda. Di mana kami tidak menginginkan ketika kami, ketika kita dua puluh tahun ke depan melihat Indonesia masih seperti sekarang ini korupsi semakin tinggi, biaya kuliah semakin mahal, biaya kesehatan juga dan semua terkapitalisasi terkomersialisasi sedemikian rupa. Jadi kami ingin masa depan kami lebih baik untuk itu izinkan kami untuk memimpin IA ITB agar kebersamaan kita kedepan bisa menjadi lebih baik.
Kemudian ada masalah dalam kealumnian kita. Ketika ke belakang dipegang oleh pejabat menteri tapi periode kemarin pemilihannya hanya diikuiti dari 2500 pemilih. Hanya 6% dari empat puluh ribu pemilih. Dan mayoritas pemilih adalah teman-teman kandidat dan kita yang muda-muda lebih banyak adalah yang merupakan aktifis kampus dan beberapa yang bukan aktivis kampus kepedulian, awareness-nya rendah sekali. Jadi kita melihat suatu masalah adalah adanya kemanfaatan yang cukup rendah. Dan lebih parah lagi ketika kami medengar dalam technical meeting sebelum pencoblosan ternyata pengurus pusat tidak memiliki database! Sebuah hal yang sangat sederhana dengan orang-orang yang sangat luar biasa, hal seperti itu saja tidak dapat diselesaikan. Kita khawatir kesempatan ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang pada akhirnya mengatasnamakan alumni ITB yang lain. Dan kita tidak mau itu terjadi…
Alumni ITB bisa kita lihat dari dua gambar. Yang pertama adalah alumni ITB dengan segmentasi yang bermacam-macam yang saling berinteaksi tanpa adanya suatu payung kebersamaan. Dan yang kedua adalah di mana interaksi yang terjadi antara alumni ITB dengan segala potensi yang ada oleh ikatan alumni ITB menjadi terpusat.
Kita tidak menginginkan program –program yang terinisiasi secara sentralistik oleh pengurus. Kita melihat banyaknya alumni ITB dengan kapabilitas yang besar dengan minat yang bermacam-macam ada yang seniman, ada yang filosofis, ada yang budayawan, ada yang ekonom, ada yang senang di politik, ada yang senang di musik dan dengannya kita mengharapkan segala macam potensi kreatif yang ada dalam alumni ini dapat bergerak bersama dan kemudian membesar secara bottom-up. Dan pada akhirnya kita menyebutnya suatu proses partisipasi.
Kita tidak berasumsi bahwa kita lebih tahu apa yang diinginkan oleh pemilih. Alumni ITB dengan segala kebersamaan dan kebesarannya sulit untuk dimengerti apa dan seberapa banyak yang menjadi kebutuhannya. Namun ketika kita berkumpul dalam kelompok-kelompok menjadi satu dengan segala bentuk kebersamaannya hal tersebut akan terakomodasi dengan baik.
Inilah pola yang kita bentuk selama ini…
[menunjuk slide]
Terdapat agen-agen yang terbentuk melalui pola pertemanan dan dalam suatu pola interaksi dan kita mengharapkan dari sini akan muncul program-program dari berbagai macam kelompok tersebut yang kemudian akan mendukung kita dengan segala macam kepentingan mereka. Dan dengan pertemanan yang lebih dekat maka akan lebih mudah mengakomodirnya.
Ini adalah kegiatan alumni ITB sebelumnya…
[menunjuk slide]
yang terpisah-pisah dan sungguh menyedihkan. Sebesar itu alumni ITB namun kegiatan yang dilakukannya sungguh menyedihkan. Dengan kebesarannya yang kita miliki…….
Ini yang akan kita lakukan…
[menunjuk slide]
alumni-alumni di Indonesia , alumni-alumni ITB. Kita bisa melihat adanya kebersamaan sebagai alumni ITB dan Indonesia yang harus saling berhubungan dan berinteraksi dan sebagai suatu kesatuan dan berkoordinasi di dalamnya.
Yang terakhir, memilih Zaid berarti menunjukkan kepada dunia, kepada bangsa, bahwa yang muda dengan segala kebersamaannya bisa menjadi pemimpin. Kita bisa memulai tren kepemimpinan baru di sini sehingga perubahan yang mendasar dapat segera diwujudkan. Kami tidak yakin jika ikatan alumni ITB dipegang bukan oleh generasi muda akan memberikan statement yang sangat kritis terhadap pemerintah. Namun jika kita dipimpin oleh yang muda hal itu sangat mungkin. Dengan bantuan abang-abang dan kakak-kakak senior yang mungkin sudah melihat berbagai kesulitan dan dengan berbagai masalah seperti mahasiswa sekarang yang semakin tidak mandiri, semakin cengeng dan segala macam masalah lainnya dapat kita selesaikan bersama-sama. Kemudian hal ini akan mendorong tren aktivitas anak muda baik di tingkat pusat maupun daerah. Yang dahulu mungkin kurang alumni mudanya, maka dengan kami maju, mudah-mudahan kami menang, itu akan menginduksi alumni ITB di tempat dan di daerahnya masing-masing.
[applause]


