Refleksi Sumpah Pemuda dan Urgensi Tim ITB Progresif dalam Suksesi Ketua IA ITB
Hearing Kandidat Ketua Umum IA ITB Semarang, 28 Oktober 2007, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda 1928. Debat kandidat ini diikuti oleh kandidat Betti, kandidat Hatta yang diwakili oleh Amir Sambodo, kandidat Zaid Perdana (Tim Proggie) yang diwakili oleh Hokky, kandidat Boyke, dan kandidat Hengky. Tim Proggie merefleksikan Sumpah Pemuda, silaturahmi yang berdasar pada sustainabilitas resiprokal, dan alasan yang penting dalam hipotesis kepemimpinan muda di IA ITB. Berikut adalah petikan refleksi yang dibawakan oleh Tim Proggie:
“Saya mungkin agak berbeda pendekatannya [dengan presentasi kandidat lainnya], saya ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan sebentar Sumpah Pemuda dan urgensi tim ITB Progresif dalam suksesi Ketua IA ITB. Jadi, Zaid tidak hadir di sini bukan semata-mata karena Zaid sedang berhalangan karena sedang ada acara refleksi sumpah pemuda di Bandung, tapi karena kita memang maju secara tim. Jadi ketika saya maju berdiri di sini itu juga adalah sama seperti Zaid sendiri dan juga teman-teman di tim yang lain. Saya adalah anggota Tim Materi Zaid untuk IA ITB – ini memang harus dibedakan dengan [kandidat] yang lain.
Ini adalah sebuah skema, apa sebenarnya yang disebut dengan sebuah momen Sumpah Pemuda, momen untuk bersama-sama. Ini adalah dulunya salah satu bentuk hasil pekerjaan dari tim kita yang berbicara tentang studi kontrak sosial waktu itu dengan menggunakan Prisonners’ Dilemma. Nanti ada beberapa referensi yang bisa dielaborasi lebih lanjut.
Intinya adalah bahwa yang namanya kerja sama, kebersamaan, itu sebenar nya dapat dimunculkan dari kondisi yang non-kooperatif. Pendekatan yang ditujukan oleh pemahaman klasik, Hobbesian, sosiologi klasik banget, mengatakan bahwa silaturahmi, yang namanya kebersamaan, itu akan muncul secara top-down, harus oleh pemimpin. Tapi sebenarnya kebersamaan yang lebih kuat – yang ditemukan dalam sosiologi [politik] modern, [seperti ditunjukkan bukunya] Prof. Bob Axelrod – justru menunjukkan bahwa kebersamaan kuat muncul dari bawah, secara bottom up. Jadi, cooperation can be emerged from the non cooperative schemes. Ini ada diskusi detail matematisnya tentunya. Nah, dari penelitian ini dikatakan dua hal, bahwa yang namanya kerja sama akan muncul jika terpenuhi dua syarat. Yang pertama, adanya resiprokalitas [yang sustainabel]. Artinya, ada interaksi di antara kita. Jadi, percuma bicara soal kebersamaan, persatuan, silaturahmi, kalau kita jarang sekali berinteraksi. Kalau kita hanya berinteraksi sekali dalam satu tahun atau bahkan satu kali dalam empat tahun, atau lima tahun. Yang kedua, agen orang dalam terminologi sosial harus berfikir bahwa dia akan berinteraksi lagi dengan orang lain itu. Jadi, kalau saya berinteraksi dengan satu orang kandidat yang ada di sini dan saya berfikir bahwa saya tidak akan berinteraksi lagi dengannya, saya akan defect, saya tidak akan mau ber-altruistik dengannya. Tapi kalau saya berfikir bahwa besok saya akan berinteraksi lagi dengan dia, artinya ada kemungkinan berhubungan lagi dengannya, maka saya akan berusaha untuk berkooperasi.
Apa yang mau kita pelajari dari sini? Di sini kita lihat bahwa kerjasama yang kita bangun melalui alumni ITB, bukanlah kerjasama sebagaimana kita ingin membangun sebuah perusahaan, sebuah enterprise yang besar, tapi lebih pada sebuah kebersamaan yang berakar pada “silaturahmi”.
Jadi adanya inisiasi sebaran kesadaran kognitif individual seperti halnya Budi Utomo, sebenarnya mungkin setara dengan kebersamaan sebagai satu almamater, setara dengan kebersamaan dan kesatuan di antara kita yang terbentuk dengan apa yang sedang kita peringati hari ini, Kongres Pemuda Kedua yang … berujung pada deklarasi Kemerdekaan tahun 45,
…………….dan inilah [menunjuk slide] yang kita sebut dengan ikatan alumni ITB.
Tiga ini, sebenarnya yang perlu kita refleksi. Hari ini sebenarnya adalah hari yang sangat penting, setidaknya tadi saya mencatat dua hal yang penting. Yang pertama adalah, hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda, hari kita memperingati bahwa jiwa mudalah yang membawa kita merdeka, jiwa mudalah yang membuat kita bersilaturahmi, jiwa mudalah yang membuat kita bersatu dan bersama
[aplause]
……..dalam Indonesia. Yang kedua, yang juga penting adalah bahwa ini adalah kota Semarang, di kota ini dibangun Tugu Muda. Tugu Muda adalah lambang yang menunjukkan bahwa adanya semangat muda….
[aplause]
yang mati [tewas] …….dalam pertempuran lima hari itu, bukanlah hanya orang-orang muda usianya saja tapi juga yang tua, yang juga memiliki semangat muda.Dan semangat inilah yang mau kita bangun di dalam kebersamaan kita disini, bersama-sama juga dengan kandidat lain.
Jadi apa yang menjadi raison d’ etre kita disini berada, kenapa kami maju, kenapa angkatan ’96 sudah berani-beraninya maju. Yang pertama adalah, kita merasa bahwa kita butuh adanya sustainabilitas, kita butuh IA ITB, dan kita tahu bahwa temen-teman yang mengatakan untuk apa sih IA ITB, bukan hanya yang muda tapi justru yang tua juga. Yang tua mengatakan untuk apa IA ITB toh kebutuhan saya akan silaturahmi sudah tercukupi, atau yang muda yang mengatakan saya kan masih mencari kerja untuk apa IA ITB, saya kan masih ini-itu…
Tapi kita butuh IA ITB, kita butuh resriprokalitas, kita butuh interaksi. Interaksi mesti diperbanyak di antara kita. Jangankan angkatan ’80-an, 70-a, atau 60-an angkatan 90-an pun 5 tahun setelah lulus berapa persen mereka yang masih berinteraksi dengan sesama angkatannya. Itu survey yang sedang direncanakan, yang perlu segera dipublikasikan. Kemudian yang kedua, ini lebih ke arah spirit, kita butuh social leadership yang lebih bercorak muda, baru,yaitu kemudaan. Dan karena inilah kami tampil sebagai ini itu. Dan kami tahu bahwa tidak mungkin Zaid sendirian atau kami tim materi sendiri-sendiri maju, ya kita maju bersama-sama. Prinsip resiprokalitas di antara kami, interaksi yang ada diantara tim kita, ingin kita tularkan juga kepada teman-teman yang lain, tak peduli angkatannya, tidak peduli jurusannya, tak peduli golongannya. Itu yang ingin kita bangun sebenarnya.
Intinya adalah menggunakan IA ITB sebagai sebuah kekuatan sosial budaya untuk masyarakat Indonesia, masyarakat kampus ITB, dan masyarakat alumni. Kita sadar bahwa kebersamaan kita di IA ITB sebenarnya memiliki satu prinsip kemudaan, punya ruh kemudaan di situ dan itu yang ingin kita kedepankan.
Inilah IA ITB, dia berkoneksi dengan masyarakat kampus, masyakat Indonesia secara umum dan juga dengan dirinya sendiri, dengan para alumni ITB sendiri. Resiprokalitas tidak hanya ada di kalangan alumni tapi juga diperluas kalau bisa.
Inilah perspektif kita……..
Inilah kondisi objektif…..
Tiga gambar tadi menjadi tiga gambar ini…….
Sebenarnya setelah ini ada program namun sepertinya tidak sempat mengelaborasinya ya……….
Memilih Zaid atau tepatnya memilih tim ini, artinya adalah mengubah mitos bahwa yang muda belum boleh bicara, ITB adalah [mungkin] institusi pertama di Indonesia yang dimana yang tua membolehkan untuk dipimpin yang muda, kalau kita menang.
[aplause].
Kitalah yang pertama, kitalah yang menjadi pionir. Yang kedua, merubah mitos sehingga jabatan ketua IA ITB adalah jabatan yang terbuka bagi siapapun yang berkomitmen, tanpa memandang usia, sifat egaliter, dan kekeluargaan yang unik. Jadi, mitos bahwa harus ada jabatan tertentu untuk jadi ketua IA ITB kita hapuskan disini. Dan IA ITB Dalah institusi pertama yang riil memungkinkan hal ini.
Yang ketiga, kita menghapus ketentuan diskriminatif dan pembatasan akses dalam pencalonan ketua IA-ITB. Karena kita memang bermain di arena resiprokalitas. Kita tidak mau kumpul hanya kumpul sekali dalam setahun, kita tidak mau kumpul hanya sekali dalan empat atau lima tahun, saya tidak mau kalau saya bertemu teman-teman di Semarang , bertemu dengan teman-teman di Medan, Balikpapan hanya sekali dalam lima tahun. Kapanpun seharusnya kita bisa berinteraksi, tidak perlu harus ada event semacam ini. Kalau perlu kita bikin pemilu setiap bulan!
[tertawa, aplause].
Yang pasti intinya adalah untuk semua ini, kita tahu bahwa ITB adalah kampus terbaik dan kita mau ajak kawan-kawan untuk bersama-sama menunjukkan yang terbaik dengan manampilkan kepemimpinan yang muda yang sebenarnya telah tercermin dalam sejarah negeri yaitu momen Sumpah Pemuda. Terima Kasih.
[aplause]
2 Comments so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>










Saya Alumni TK84. Saya senang Saudara Zaid, Akngkatn 96, berani menantang Kandidat lainnya yang sudah banyak pengalaman.
Semangat kemudaan is Ok. Melawan mitos Ok. Kempul-kumpul sering Ok. Setelah itu apa yang lebih konkrit?
Comment by Efendi Sitompul 2007/10/31 @ 16:54:18SEKARANG GILIRAN YANG MUDA.
Comment by khairul amri soripada 2007/11/02 @ 01:08:20