Zaid Sang Perdana


Refleksi Sumpah Pemuda
2007/10/30, 00:38:57
Filed under: IA-ITB, ITB, Pemilu, Politics, Politik, Publik, Science

Refleksi Sumpah Pemuda dan Urgensi Tim ITB Progresif dalam Suksesi Ketua IA ITB

Hearing Kandidat Ketua Umum IA ITB Semarang, 28 Oktober 2007, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda 1928. Debat kandidat ini diikuti oleh kandidat Betti, kandidat Hatta yang diwakili oleh Amir Sambodo, kandidat Zaid Perdana (Tim Proggie) yang diwakili oleh Hokky, kandidat Boyke, dan kandidat Hengky. Tim Proggie merefleksikan Sumpah Pemuda, silaturahmi yang berdasar pada sustainabilitas resiprokal, dan alasan yang penting dalam hipotesis kepemimpinan muda di IA ITB. Berikut adalah petikan refleksi yang dibawakan oleh Tim Proggie:

“Saya mungkin agak berbeda pendekatannya [dengan presentasi kandidat lainnya], saya ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan sebentar Sumpah Pemuda dan urgensi tim ITB Progresif dalam suksesi Ketua IA ITB. Jadi, Zaid tidak hadir di sini bukan semata-mata karena Zaid sedang berhalangan karena sedang ada acara refleksi sumpah pemuda di Bandung, tapi karena kita memang maju secara tim. Jadi ketika saya maju berdiri di sini itu juga adalah sama seperti Zaid sendiri dan juga teman-teman di tim yang lain. Saya adalah anggota Tim Materi Zaid untuk IA ITB – ini memang harus dibedakan dengan [kandidat] yang lain.

semarang1.gif

Ini adalah sebuah skema, apa sebenarnya yang disebut dengan sebuah momen Sumpah Pemuda, momen untuk bersama-sama. Ini adalah dulunya salah satu bentuk hasil pekerjaan dari tim kita yang berbicara tentang studi kontrak sosial waktu itu dengan menggunakan Prisonners’ Dilemma. Nanti ada beberapa referensi yang bisa dielaborasi lebih lanjut.

Intinya adalah bahwa yang namanya kerja sama, kebersamaan, itu sebenar nya dapat dimunculkan dari kondisi yang non-kooperatif. Pendekatan yang ditujukan oleh pemahaman klasik, Hobbesian, sosiologi klasik banget, mengatakan bahwa silaturahmi, yang namanya kebersamaan, itu akan muncul secara top-down, harus oleh pemimpin. Tapi sebenarnya kebersamaan yang lebih kuat – yang ditemukan dalam sosiologi [politik] modern, [seperti ditunjukkan bukunya] Prof. Bob Axelrod – justru menunjukkan bahwa kebersamaan kuat muncul dari bawah, secara bottom up. Jadi, cooperation can be emerged from the non cooperative schemes. Ini ada diskusi detail matematisnya tentunya. Nah, dari penelitian ini dikatakan dua hal, bahwa yang namanya kerja sama akan muncul jika terpenuhi dua syarat. Yang pertama, adanya resiprokalitas [yang sustainabel]. Artinya, ada interaksi di antara kita. Jadi, percuma bicara soal kebersamaan, persatuan, silaturahmi, kalau kita jarang sekali berinteraksi. Kalau kita hanya berinteraksi sekali dalam satu tahun atau bahkan satu kali dalam empat tahun, atau lima tahun. Yang kedua, agen orang dalam terminologi sosial harus berfikir bahwa dia akan berinteraksi lagi dengan orang lain itu. Jadi, kalau saya berinteraksi dengan satu orang kandidat yang ada di sini dan saya berfikir bahwa saya tidak akan berinteraksi lagi dengannya, saya akan defect, saya tidak akan mau ber-altruistik dengannya. Tapi kalau saya berfikir bahwa besok saya akan berinteraksi lagi dengan dia, artinya ada kemungkinan berhubungan lagi dengannya, maka saya akan berusaha untuk berkooperasi.

Apa yang mau kita pelajari dari sini? Di sini kita lihat bahwa kerjasama yang kita bangun melalui alumni ITB, bukanlah kerjasama sebagaimana kita ingin membangun sebuah perusahaan, sebuah enterprise yang besar, tapi lebih pada sebuah kebersamaan yang berakar pada “silaturahmi”.

semarang2.gif

Jadi adanya inisiasi sebaran kesadaran kognitif individual seperti halnya Budi Utomo, sebenarnya mungkin setara dengan kebersamaan sebagai satu almamater, setara dengan kebersamaan dan kesatuan di antara kita yang terbentuk dengan apa yang sedang kita peringati hari ini, Kongres Pemuda Kedua yang … berujung pada deklarasi Kemerdekaan tahun 45,

…………….dan inilah [menunjuk slide] yang kita sebut dengan ikatan alumni ITB.

Tiga ini, sebenarnya yang perlu kita refleksi. Hari ini sebenarnya adalah hari yang sangat penting, setidaknya tadi saya mencatat dua hal yang penting. Yang pertama adalah, hari ini adalah Hari Sumpah Pemuda, hari kita memperingati bahwa jiwa mudalah yang membawa kita merdeka, jiwa mudalah yang membuat kita bersilaturahmi, jiwa mudalah yang membuat kita bersatu dan bersama

[aplause]

……..dalam Indonesia. Yang kedua, yang juga penting adalah bahwa ini adalah kota Semarang, di kota ini dibangun Tugu Muda. Tugu Muda adalah lambang yang menunjukkan bahwa adanya semangat muda….

[aplause]

yang mati [tewas] …….dalam pertempuran lima hari itu, bukanlah hanya orang-orang muda usianya saja tapi juga yang tua, yang juga memiliki semangat muda.Dan semangat inilah yang mau kita bangun di dalam kebersamaan kita disini, bersama-sama juga dengan kandidat lain.

semarang3.gif

Jadi apa yang menjadi raison d’ etre kita disini berada, kenapa kami maju, kenapa angkatan ’96 sudah berani-beraninya maju. Yang pertama adalah, kita merasa bahwa kita butuh adanya sustainabilitas, kita butuh IA ITB, dan kita tahu bahwa temen-teman yang mengatakan untuk apa sih IA ITB, bukan hanya yang muda tapi justru yang tua juga. Yang tua mengatakan untuk apa IA ITB toh kebutuhan saya akan silaturahmi sudah tercukupi, atau yang muda yang mengatakan saya kan masih mencari kerja untuk apa IA ITB, saya kan masih ini-itu…

Tapi kita butuh IA ITB, kita butuh resriprokalitas, kita butuh interaksi. Interaksi mesti diperbanyak di antara kita. Jangankan angkatan ’80-an, 70-a, atau 60-an angkatan 90-an pun 5 tahun setelah lulus berapa persen mereka yang masih berinteraksi dengan sesama angkatannya. Itu survey yang sedang direncanakan, yang perlu segera dipublikasikan. Kemudian yang kedua, ini lebih ke arah spirit, kita butuh social leadership yang lebih bercorak muda, baru,yaitu kemudaan. Dan karena inilah kami tampil sebagai ini itu. Dan kami tahu bahwa tidak mungkin Zaid sendirian atau kami tim materi sendiri-sendiri maju, ya kita maju bersama-sama. Prinsip resiprokalitas di antara kami, interaksi yang ada diantara tim kita, ingin kita tularkan juga kepada teman-teman yang lain, tak peduli angkatannya, tidak peduli jurusannya, tak peduli golongannya. Itu yang ingin kita bangun sebenarnya.

Intinya adalah menggunakan IA ITB sebagai sebuah kekuatan sosial budaya untuk masyarakat Indonesia, masyarakat kampus ITB, dan masyarakat alumni. Kita sadar bahwa kebersamaan kita di IA ITB sebenarnya memiliki satu prinsip kemudaan, punya ruh kemudaan di situ dan itu yang ingin kita kedepankan.

Inilah IA ITB, dia berkoneksi dengan masyarakat kampus, masyakat Indonesia secara umum dan juga dengan dirinya sendiri, dengan para alumni ITB sendiri. Resiprokalitas tidak hanya ada di kalangan alumni tapi juga diperluas kalau bisa.

Inilah perspektif kita……..

semarang4.gif

Inilah kondisi objektif…..

semarang5a.gif

Tiga gambar tadi menjadi tiga gambar ini…….
Sebenarnya setelah ini ada program namun sepertinya tidak sempat mengelaborasinya ya……….

semarang6.gif

Memilih Zaid atau tepatnya memilih tim ini, artinya adalah mengubah mitos bahwa yang muda belum boleh bicara, ITB adalah [mungkin] institusi pertama di Indonesia yang dimana yang tua membolehkan untuk dipimpin yang muda, kalau kita menang.

[aplause].

Kitalah yang pertama, kitalah yang menjadi pionir. Yang kedua, merubah mitos sehingga jabatan ketua IA ITB adalah jabatan yang terbuka bagi siapapun yang berkomitmen, tanpa memandang usia, sifat egaliter, dan kekeluargaan yang unik. Jadi, mitos bahwa harus ada jabatan tertentu untuk jadi ketua IA ITB kita hapuskan disini. Dan IA ITB Dalah institusi pertama yang riil memungkinkan hal ini.

Yang ketiga, kita menghapus ketentuan diskriminatif dan pembatasan akses dalam pencalonan ketua IA-ITB. Karena kita memang bermain di arena resiprokalitas. Kita tidak mau kumpul hanya kumpul sekali dalam setahun, kita tidak mau kumpul hanya sekali dalan empat atau lima tahun, saya tidak mau kalau saya bertemu teman-teman di Semarang , bertemu dengan teman-teman di Medan, Balikpapan hanya sekali dalam lima tahun. Kapanpun seharusnya kita bisa berinteraksi, tidak perlu harus ada event semacam ini. Kalau perlu kita bikin pemilu setiap bulan!

[tertawa, aplause].

semarang7a.gif

Yang pasti intinya adalah untuk semua ini, kita tahu bahwa ITB adalah kampus terbaik dan kita mau ajak kawan-kawan untuk bersama-sama menunjukkan yang terbaik dengan manampilkan kepemimpinan yang muda yang sebenarnya telah tercermin dalam sejarah negeri yaitu momen Sumpah Pemuda. Terima Kasih.

[aplause]

 



Videocast
2007/10/29, 22:52:54
Filed under: IA-ITB, ITB, Pemilu, Politics, Politik, Publik

Tanggal 26 Oktober kami di tim proggie berhasil membuat sebuah videocast sederhana. Videocast ini dibuat di Proggie’s Corner, Sanggar Seni Taman Budaya, Dago Tea House Bandung. Setelah sedikit editing untuk menyesuaikan audio yang sedikit terlambat, karena videocast dibuat hanya bermodal kamera kantong digital, akhirnya videocast ini kita bagi jadi beberapa edisi dan diupload di youtube untuk bisa dishare dengan teman-teman. Berikut ini alamat youtube dan content yang terdapat dalam videocast tersebut.

Videocast ini berisi ajakan dari Zaid Perdana Nasution bagi kawan-kawan alumni ITB lain untuk bergabung, dan cara untuk mendukung gerakan aspirasi muda ITB dan Indonesia ini…
URL: http://www.youtube. com/watch? v=LKj82qU_ SQY

Zaid dan kawan-kawan, adalah anak-anak muda alumni ITB yang cenderung dianggap terlalu muda untuk memimpin IA ITB. Apa pesan yang ingin mereka bawa kepada para senior mereka yang sebenarnya masih dinamis dan berjiwa muda?
URL: http://www.youtube. com/watch? v=zYzh4I6mTIM

Videocast ini memberikan jawaban langsung dari Zaid dan tim tentang tanggapan mereka atas kepengurusan IA ITB yang lama? Apa yang ingin dibawa sebagai calon kepengurusan baru di IA ITB?
URL: http://www.youtube. com/watch? v=5Yn7sa8vzLo

Videocast ini mempresentasikan mengapa Zaid yang hanya seorang alumni TL 96 berani mencalonkan diri menjadi Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung. Apa yang menjadi urgensinya?
URL: http://www.youtube. com/watch? v=pm_j-L6gmAo

Videocast ini menunjukkan apa kelebihan dari Tim ITB Progresif dalam mengusung Zaid untuk menjadi Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung. Apa sebenarnya yang ingin dibawa oleh Tim ITB Progresif ini….
URL: http://www.youtube. com/watch? v=xsyOQ5c0YI4

In Harmonia Progresio



HASRAT UNTUK BERUBAH
2007/10/28, 01:18:56
Filed under: Publik, poet, poetry, puisi

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
Aku bermimpi ingin mengubah dunia,
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
Kudapati bahwa
Dunia tidak kunjung berubah

Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku,
Namun tampaknya,
Hasrat itu pun tiada hasilnya

Ketika usiaku semakin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
Orang-orang yang paling dekat denganku,
Tetapi celakanya,
Mereka pun tidak mau diubah!

Dan kini,
Sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
Tiba-tiba kusadari,

“Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah
Diriku,

Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
Mungkin aku bisa mengubah
Keluargaku,

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
Bisa jadi akupun mampu memperbaiki
Negeriku,

Kemudian siapa tahu,
Aku bahkan bisa mengubah
Dunia !”

 

-terukir disebuah makam di Wesminster,
Aboey, Inggris, 1100 M-



Teriak!
2007/10/18, 23:35:07
Filed under: ITB, Publik, poet, poetry, puisi

puisi opening OSKM 2004 (by:Hokkop)
Rabu, 25 Agustus 2004

Selamat senja nafasku!!
Jikakah kalian melihat kuasa bertengger dipundakku?!
Jikakah kalian melangkah dialtar masa dan keringat?!
Jikakah kalian sadar ada ikrar yang musti dipertahankan?!
Buka matamu nafasku !!
Lihat dan resapi dingin lantai-lantai gedung
Yang diam jadi saksi

Perjuangan bukan kata-kata
Perjuangan adalah pelaksanaan

Berteriak… berteriaklah nafasku!!
Mana penamu mengukir sejarah ?!
Mana lakumu Menjadi panji bagi tanah ini?!
MERDEKA hanya secarik kertas bagimu bukan?
MERDEKA tak lebih dari komedi tolol…
MERDEKA tak berubah menjadi beras…

Kalian terjajah…
Kalian terjajah dalam ideologi semu kebangsaan…
Kalian terjajah dalam rintik mentari menghunjam
Pernak-pernik gaya hidup…
Kalian terjajah dalam kesendirian
Kalian terjajah dalam kerasotak dan belati ego
Menutup mata yang seharusnya menangis

Aku menuntut kemerdekaan bangsa
Aku menuntut kemerdekaan atas sungai-sungai dan bukit
Aku menuntut kemerdekaan atas bumi yang kupijak
Aku menuntut kemerdekaan hak-hak sebagai manusia
Aku menuntut kemerdekaan mahasiswa !!

Aku hari ini menutup masa sejarah Bung Karno
Aku hari ini menutup masa sejarah Bung Hatta
Aku hari ini menutup masa sejarah Soedirman, Dhien, Pattimura, dan Gatot Kaca !!
Kebesaran mereka adalah milik mereka !!

Aku butuh udara…
Aku butuh nafas-nafas baru…
Yang terhenyak dalam batin dan kenistaan bangsa…
Yang membuka mata pada keruntuhan bumi !
Yang pada tebing suara menghancurkan tembok-tembok tirani
Aku butuh kalian nafasku…!

Tak adakah kalian mengerti…
Merdeka adalah menghirup udara
Merdeka adalah terbang kelangit dan mendarat
Berenang pada samudera…
Merdeka adalah ketidakterbatasan mengatur apa yang menjadi hak-hak bangsa ini…!

Nafasku…
Nafasku…
Nafasku…
Satu dari kalian adalah nyawa bagiku…
Ingat… satu dari kalian adalah nyawa bagiku…
Selamat sore nafasku…

Dan aku hanya ingin teriak merdeka!!

(karya: Hokkop SI 98’, dibawakan oleh: Ahmad dan Hokkop, dibawakan pada pembukaan OSKM ITB 2004 )

Akankah cukup masaku

Dan kembali lagi satu masa telah berlalu

Pada masa surga bumi aku kembali menoreh sejarah

Masa dan petisi merobek-robek kertas tekadku

Merintih aku dan air mata menitik pada alam

Sudah…

Sudah cukup aku tertatih

Sudah cukup masaku menanti

Sudah cukup kau toreh belati siksa pada kesan dibenakku

Sudah cukup teriakku menjadi kelam pada alam

Sudah cukup aku berjanji…

Ijinkan aku berlaku dan bersaksi

Pada rentetan syair-syair lagu ikrarku

Bunda pertiwi…

Aku lelah hari ini…

Merapat pada laksa pelangi mendaki

Geram nafasku kala meremas tanah

Kala merah bumi memanas mencabik-cabik sumpahu…

Aku lelah hari ini…

Beraniku surut kala tak lagi satu pohon menutup lahan dan janiku

Aku adalah panji

Dan ujarku adalah saksi bagi seribu samudera

Aku akan berlaku kala kataku tak cukup untuk menjadi saksi

Aku akan berlari kala hari tak lagi merebut pagiku

Aku adalah panji

Penegak dan pemegang sutra bendera dan genderang kebenaran

Aku adalah panji-panji tanahku

Pengangkat beban pertiwi kala mendaki semeru bahkan neraka

Aku adalah panji-panji tanahku

Bahkan lelah takkan merenggut habis nafasku

Hingga tak satu asa tertatih mengemban derita

Kala itu pula masaku akan berakhir disisi-Mu

Aku adalah panji-panji tanah airku…

(karya: Hokkop ‘98, Dibawakan oleh Ahmad ‘99 pada LKO HMS)



Beriring Takbir Membelah Bambu
2007/10/13, 06:45:42
Filed under: Publik

selamat-lebaran.jpg

Di tengah pukulan beduk yang bertalu-talu dan kumandang takbir Idul Fitri, para proggie muda terus bekerja dengan gembira mempersiapkan logistik kampanye yang diperlukan. Tentu saja hal ini bukan perkara gampang mengingat hambatan utama adalah keterbatasan dana kampanye yang dimiliki tim proggie. Namun kreativitas rupanya tidak terbatas oleh ada atau tidaknya materi atau uang, kreativitas menjadi layaknya sungai yang meluap ketika semangat menjadi bahan bakarnya. Dengan segala keterbatasan, gardus bekas, spanduk bekas, bambu bekas, kain bekas, baligo bekas dan bahan-bahan bekas lainnya pun disulap menjadi baligo, x-banner, pin, spanduk, umbul-umbul, poster dengan kualitas yang tidak kalah dengan hasil produksi pabrik. Salute proggie !

Bagaimana bisa? Rupannya, dunia kemahasiswaan ITB banyak meninggalkan skill-skill khusus pada para alumni mudanya untuk tetap survive di tengah berbagai keterbatasan. Ketrampilan yang lahir bukan dari situasi kemapanan materi, namun justru muncul dari upaya untuk mengatasi minimnya fasilitas ketika akan berkegiatan. Rasanya pemeo saat di kampus dulu bahwa ”cukup dengan sebatang rokok dan secangkir kopi, ide dan kreativitas bisa lahir” masih sangat relevan. Namun tentu saja hal yang sangat penting adalah semangat kemudaan yang progresif. Semangat yang tumbuh lewat kematangan wacana dalam diskusi-diskusi yang kaya akan dialektika. Yah, majunya tim ITB progresif dalam Pemilu IA ITB dengan mencalonkan Zaid Perdana Nasuiton telah melewati tahapan tersebut. Sebuah proses yang dalam bahasa kami adalah sebuah eksperimen untuk mencari anti hipotesis dari hipotesa kami bahwa kaum mudalah yang mampu membawa perubahan dan perbaikan terhadap IA ITB. Alhamdullilah, sampai saat ini kami belum menemukan argumentasi yang mampu meruntuhkan hipotesis tersebut. Akibatnya, eksperimen pun tidak akan berhenti sampai kami mendapatkan jawabannya.

Tentu saja hambatan yang dihadapi tidaklah sedikit. Mulai dari respon penolakan kawan-kawan alumni yang notabenenya sepantaran (dalam usia tapi bukan dalam semangat) dengan kami melalui kalimat ”baju yang kebesaran” lah, ”belum saatnya” lah ataupun hambatan-hambatan teknis seperti biaya. Namun sekali lagi kami ingin mengatakan bahwa sebagai orang muda (dalam semangat), kami tidak akan mundur dengan tantangan tersebut. Kami hanya berhenti ketika segala argumentasi yang melandasi eksperimen kami dapat diruntuhkan. Toh, kata Soekarno bahwa orang besar hanya bisa lahir dari proses yang “up and down” . Terlebih kami yakin bahwa sangat banyak kawan-kawan yang mempunyai pemikiran sejalan dan sepakat dengan ide yang kami usung. Dari merekalah kami mengharapkan doa dan bantuannya. Bantuan paling minimal adalah memlih Zaid pada saat pemilihan nanti dan paling maksimal adalah bergabung dengan kami dalam tim proggie, Tim ITB muda yang progresif (A1).

selamat-lebaran.jpg



10 Alasan Memilih Zaid
2007/10/10, 03:16:51
Filed under: IA-ITB, ITB, Pemilu, Politics, Politik

10 ALASAN KENAPA ANDA MEMILIH ZAID PERDANA NASUTION UNTUK KETUA IA-ITB 2007-2012:

  1. MEMILIH ZAID = MERUBAH MITOS BAHWA YANG MUDA BELUM BOLEH BICARA
  2. MEMILIH ZAID = MERUBAH MITOS BAHWA JABATAN KETUA IA-ITB ADALAH KENDARAAN POLITIK MENUJU JABATAN SEKELAS MENTERI NEGARA ATAU MITOS BAHWA HANYA ORANG SEKELAS MENTERI ATAU DIREKTUR PERUSAHAAN RAKSASA ATAU BOS KONGLOMERASI BISNIS YANG DAPAT MENJADI KETUA IA-ITB
  3. MEMILIH ZAID = MENGHAPUS KETENTUAN DISKRIMINATIF DAN PEMBATASAN AKSES DALAM PENCALONAN KETUA IA-ITB KARENA PADA SAAT INI KETENTUAN MENDAFTAR HARUS DISERTAI DENGAN JAMINAN RP 100 JUTA DAN PENDAFTARAN RP 30 JUTA.
  4. MEMILIH ZAID = MEMILIH KOLEKTIVITAS DARI MEREKA YANG BERJIWA MUDA, BERHATI BERSIH, DAN BERPEMIKIRAN PROGRESIF, KARENA HANYA ZAID YANG MAJU DENGAN DUKUNGAN DRI SEBUAH TIM GABUNGAN YANG MUDA BERSIH PROGRESIF
  5. MEMILIH ZAID = MEMASTIKAN BAHWA PROGRAM IA-ITB FOR ITB (e.g. Donasi kepada ITB) DAN IA-ITB FOR ALUMNI (e.g. Home Tournament antar Angkatan) YANG SELAMA INI BERJALAN AKAN TETAP BERLANGSUNG SEHINGGA ANDA TIDAK KEHILANGAN MANFAAT YANG SELAMA INI ANDA PEROLEH
  6. MEMILIH ZAID = MEMASTIKAN BAHWA KE DEPAN PROGRAM IA-ITB FOR INDONESIA AKAN LEBIH KONGKRIT DAN INTENSIF SEHINGGA DAPAT DIPASTIKAN BAHWA IA-ITB AKAN LEBIH BERGUNA BAGI MASYARAKAT
  7. MEMILIH ZAID = MEMASTIKAN BAHWA ALUMNI MUDA MEMILIKI TEMPAT UNTUK KONGKOW DAN BERGAUL DI SEKRETARIAT IA-ITB TANPA HARUS MERASA BAHWA TEMPAT TERSEBUT HANYA ARENA ALUMNI SENIOR
  8. MEMILIH ZAID = MEMULAI TREN KEPEMIMPINAN GENERASI MUDA DALAM JABATAN PUBLIK DI INDONESIA SEHINGGA CITA-CITA PERUBAHAN DAPAT SEGERA DIWUJUDKAN
  9. MEMILIH ZAID = MEMILIH DIRI ANDA SENDIRI KARENA KAMI PERCAYA BAHWA ANDA BERJIWA MUDA, BERHATI BERSIH DAN BERPEMIKIRAN PROGRESIF
  10. ALASAN KESEPULUH ADALAH ALASAN YANG ADA DALAM HATI DAN PIKIRAN ANDA!

IN HARMONIA PROGRESSIO